- Back to Home »
- As-salafy , Salafhus shaleh , Salafiyin »
- Pengertian Salafi
Senin, 10 Agustus 2015
Salafiyah/Salafisme (Arab: السلفية as-Salafiyyah)
adalah salah satu metode dalam agama Islam yang
mengajarkan syariat Islam secara
murni tanpa adanya tambahan dan pengurangan, berdasarkan syariat yang ada pada
generasi Muhammad dan para sahabat, setelah mereka dan orang-orang
setelahnya.[1]
Seseorang yang
mengikuti aliran salafiyah ini disebut dengan salafi (as-salafy),
jamaknya adalah salafiyyun (as-salafiyyun).[2] Ada seorang syekh yang
mengatakan bahwa siapa saja yang berpendapat sesuai dengan Al-Qur'an dan sunnah mengenai aqidah, hukum dan
suluknya menurut pemahaman salaf, maka ia disebut
salafi, jika pendapat mereka sebaliknya maka, mereka itu bukan salafi meskipun
mereka hidup pada zaman sahabat, tabi'in & tabi'ut
tabi'in.[3]
Dalam buku yang
berjudul Ghazali and The Poetics of Imagination, karya Ebrahim
Moosa, salafisme adalah sebuah gerakan pahampolitik Islamisme yang mengambil leluhur
(salaf) dari patristik masa awal Islam sebagai paham dasar.
Kata salafiyah diambil
dari kata "Salaf" adalah kependekan dari "Salaf
al-Ṣāliḥ" (Arab: السلف الصالح),
yang berarti "terdahulu". Dalam terminologi Islam, secara umum
digunakan untuk menunjuk kepada tiga generasi terbaik umat muslim yaitu sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in. Ketiga generasi ini
dianggap sebagai contoh terbaik bagaimana Islam dipraktikkan.
Awal penggunaan salafiyah
Istilah salafy ini
telah digunakan sejak abad pertengahan, tetapi saat ini kalimat ini
mengacu terutama kepada pengikut aliran IslamSunni modern
yang dikenal sebagai Salafiyyah atau Salafisme, yang terkait pula dengan atau
mencakup Wahhabisme (untuk
sebagian umatnya nama Wahabi ini dianggap menghina, mereka lebih memilih
istilah Salafisme), sehingga dua istilah ini sering dipandang sebagai sinonim.[5] Mereka memiliki argumen bahwa Muhammad bin
Abdul Wahhab tidak mengajarkan agama (aliran) baru dalam
pemikiran atau penggambaran diri, ia hanya berusaha memurnikan Islam yang telah
bercampur dengan adat istiadat lokal.
Para pengikut salafy
menganggap Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sebagai seorang pemikir besar dalam
agama Islam, sebuah fakta yang dikonfirmasikan oleh mereka menutup ketaatan
kepada ajaran doktrinal. Biasanya, penganutnya dari gerakan salafy menjelaskan
dirinya sebagai "Muwahidin," "Ahl Hadits," [6] atau "Ahl at-Tauhid." [7]
Istilah salafy ini
juga muncul di dalam kitab Al-Ansab karangan Abu Sa'd Abd
al-Kareem al-Sama'ni, yang meninggal pada tahun 1166 (562 dari kalender Islam).
Di bawah untuk masuk dalam pemikiran al-salafi ujarnya,
"Ini merupakan pemikiran ke salaf, atau pendahulu, dan mereka mengadopsi pengajaran
pemikiran berdasarkan apa yang saya telah mendengar."
Salafy melihat tiga
generasi pertama dari umat Islam, yaitu Muhammad dan para sahabatnya, dan dua generasi berikut
setelah mereka,tabi'in dan taba 'at-tabi'in, sebagai
contoh bagaimana Islam harus dilakukan. Prinsip ini berasal dari aliran Sunni,
hadits (tradisi) diberikan kepada Nabi Muhammad:
“
|
Orang-orang dari generasi yang terbaik, maka
orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian mereka yang mengikuti kedua
(yakni tiga generasi pertama dari umat Islam).
|
”
|
Salafy umumnya
menisbatkan kepada mahdzab Imam Ahmad Bin Hambali dan kemudian
rujukan pemikiran Ibnu Taimiyah,
maka Salafy masih dikategorikan Ahlusunnah
Wal Jama'ah.[8]
Pokok ajaran dari
ideologi dasar salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan
selesai pada waktu masa Muhammad dan para
sahabatnya, oleh karena itu tidak dikehendaki adanya inovasi yang telah
ditambahkan pada abad nanti karena pengaruh adat dan budaya. Paham ideologi
Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang lebih mirip
dengan agama Muhammad pertama kali berdakwah.[9]
Salafisme juga telah
digambarkan sebagai sebuah versi sederhana dan pengetahuan Islam, di mana
penganutnya mengikuti beberapa perintah dan praktik.[10]
Para Salafy sangat
berhati-hati dalam agama, apalagi dalam urusan aqidah dan fiqh. Salafy sangat
berpatokan kepada salaf as-shalih. Bukan hanya
masalah agama saja mereka perhatikan, tetapi masalah berpakaian, salafy sangat
suka mengikuti gaya berpakaian seperti zaman salaf as-shalih seperti
memanjangkan jenggot, memakai gamis bagi laki-laki atau memaki celana
menggantung (tidak melebihi mata kaki),[11] dan juga memakai cadar bagi
beberapa wanita salafy.
Penggunaan salafiyah masa kini
Pada zaman modern,
kata salafy memiliki dua definisi yang kadang-kadang berbeda. Yang pertama,
digunakan oleh akademisi dan sejarawan, merujuk pada "aliran pemikiran
yang muncul pada paruh kedua abad sembilan belas sebagai reaksi atas penyebaran
ide-ide dari Eropa," dan "orang-orang yang mencoba memurnikan kembali
ajaran yang telah di bawa Rasulullah serta menjauhi berbagai ke-bid'ah-an,
khurafat, syirik dalam agama Islam"[12]
Penggunaan "yang
cukup berbeda" kedua yang lebih disenangi oleh para salafy kontemporer
secara sepihak, mendefinisikan seorang salafi sebagai muslim yang mengikuti
"perintah kitab suci ... secara literal, tradisional" dan bukannya "penafsiran
yang nampak tak berbatas" dari "salafi" awal. Para Salafi ini
melihat ke Ibnu Taimiyah,
bukan ke figur abad ke 19 Muhammad Abduh, Jamal
al-Din, Rashid Rida.[12]
Para Ulama yang tergolong Salafy :
Al Bukhary
Muslim
Abu Daud
Abu Hatim
Abu
Zur'ah
At-Tirmidzi
An-Nasa'i
Sumber Utama : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Referensi :
Sumber Utama : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Referensi :
1. ^ "Sebaik-baiknya kalian adalah
generasiku (para sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi'in)
kemudian orang-orang setelah mereka (tabi'ut tabi'in)." Hadits riwayat
Imam Bukhary dalam Shahihnya.
2. ^ Imam Adz Dzahabi berkata: "As-salafi
adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf." Siyar
A’lamin Nubala 6/21.
3. ^ Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji
berkata, "Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan al-Qur'an &
Sunnah mengenai aqidah, hukum & suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia
disebut Salafi, meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya."
"Sebaliknya barangsiapa pendapatnya menyalahi al-Qur'an & Sunnah, maka
ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman Sahabat, Tabi'in &
Tabi'ut Tabi'in." (al-Wajiiz fii 'Aqiidah Salaf as-Shalih).


