Tampilkan postingan dengan label Dosa Besar. Tampilkan semua postingan
Merasa Aman dari siksa Alloh dan berputus asa dari Rahmat-Nya
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]أفأمنوا مكر الله، فلا يأمن مكر الله إلا القوم
الخاسرون[
“Maka apakah mereka
merasa aman dari azab Allah (yang tiada terduga duga) ?, tiada yang merasa aman
dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf, 99).
]ومن يقنط من رحمة ربه إلا الضالون[
“Dan tiada yang berputus
asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat” (QS. Al Hijr,
56).
Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika
ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab :
"الشرك بالله، واليأس من روح الله، والأمن
من مكر الله ".
“Yaitu : syirik kepada
Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari
makar Allah”.
Abdurrazzaq meriwayatkan
dari Ibnu Mas’ud, ia berkata :
"أكبر الكبائر : الإشراك بالله، والأمن من
مكر الله، والقنوط من رحمة الله، واليأس من روح الله ". “Dosa besar yang paling
besar adalah : menyekutukan Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus
harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah” (HR. Abdur
Razzaq).
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat dalam surat Al A’raf ([1]).
-
Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Hijr ([2]).
-
Ancaman yang keras bagi orang yang merasa aman dari siksa Allah.
-
Ancaman yang keras bagi orang yang berputus asa dari rahmat Allah.
Catatan Kaki :
([1]) Ayat ini menunjukkan bahwa
merasa aman dari siksa adalah dosa besar yang harus dijauhi oleh orang
mu’min.
([2]) Ayat ini menunjukkan bahwa
bersikap putus asa dari rahmat Allah termasuk pula dosa besar yang harus
dijauhi. Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa seorang mu’min harus
memadukan antara dua sikap, harap dan khawatir, harap akan rahmat Allah dan
khawatir terhadap siksaNya.
Rabu, 12 Agustus 2015
Tag :
Dosa Besar,
Kebatilan
Apa itu Tathoyyur
BAB
28
TATHOYYUR
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]ألا إنما طائرهم عند الله ولكن أكثرهم لا
يعلمون[
“Ketahuilah,
sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka
tidak mengetahui” (QS. Al A’raf, 131).
]قالوا طائرهم معكم أئن ذكرتم بل أنتم قوم
مسرفون[
“Mereka (para
Rasul) berkata : “kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri, apakah jika
kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial)? sebenarnya kamu adalah kaum yang
melampaui batas.” (QS. Yasin, 19).
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"لا عدو ولا طيرة ولا هامة ولا صفر "
أخرجاه, وزاد مسلم " ولا نوء ولا غول".
“Tidak ada
‘Adwa, Thiyarah, Hamah, Shofar” (HR. Bukhori dan
Muslim), dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan : “ dan tidak ada
Nau’, serta ghaul.” ([1]).
Imam Bukhori dan Muslim
meriwayatkan pula dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda :
"لا عدو ولا طيرة ويعجبني الفأل"، قالوا :
وما الفأل ؟ قال : " الكلمة الطيبة".
“Tidak ada ‘Adwa dan
tidak ada Thiyarah, tetapi Fa’l menyenangkan diriku”, para sahabat bertanya :
“apakah Fa’l itu ?” beliau menjawab : “yaitu kalimah thoyyibah (kata kata yang
baik)”.
Abu Daud meriwayatkan
dengan sanad yang shoheh, dari Uqbah bin Amir, ia berkata : “Thiyarah
disebut-sebut dihadapan Rasulullah, maka beliaupun bersabda :
"أحسنها الفأل، ولا ترد مسلما، فإذا رأى
أحدكم ما يكره فليقل : اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت، ولا يدفع السيئات إلا أنت،
ولا حول ولا قوة إلى بك".
“Yang paling baik adalah
Fa’l, dan Thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari
niatnya, apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak
diinginkannya, maka hendaknya ia berdo’a : “Ya Allah, tiada yang dapat
mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang dapat menolak kejahatan
kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali atas
pertolonganMu”.
Abu Daud meriwayatkan
hadits yang marfu’ dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
"الطيرة شرك، الطيرة شرك، وما منا إلا
...، ولكن الله يذهبه بالتوكل " رواه أبو داود والترمذي وصححه وجعل آخره من قول ابن
مسعود.
“Thiyarah itu perbuatan
syirik, thiyarah itu perbuatan syirik, tidak ada seorangpun dari antara kita
kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah
Subhanahu wata’ala bisa menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya”.(HR.Abu
Daud). Hadits ini diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi dan dinyatakan shoheh, dan
kalimat terakhir ia jadikan sebagai ucapannya Ibnu Mas’ud)
Imam Ahmad meriwayatkan
hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"من ردته الطيرة عن حاجته فقد أشرك "،
قالوا : فما كفارة ذلك ؟ قال : أن تقول : اللهم لا خير إلا خيرك، ولا طير إلا طيرك،
ولا إله إلا غيرك".
“Barang siapa yang
mengurungkan hajatnya karena thiyarah ini, maka ia telah berbuat kemusyrikan”,
para sahabat bertanya : “lalu apa yang bisa menebusnya ?”, Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :” hendaknya ia berdoa : “Ya Allah, tiada
kebaikan kecuali kebaikan dariMu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dariMu,
dan tiada sesembahan kecuali Engkau”.
Dan dalam riwayat yang
lain dari Fadl bin Abbas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"إنما الطيرة ما أمضاك أو
ردك"
“Sesugguhnya Thiyarah
itu adalah yang bisa menjadikan kamu terus melangkah, atau yang bisa
mengurungkan niat (dari tujuan kamu)”.
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang kedua ayat tersebut di atas, surat Al A’raf 131, dan Yasin 19.
-
Pernyataan bahwa tidak ada ‘Adwa..
-
Pernyataan bahwa tidak ada thiyarah.
-
Pernyataan bahwa tidak ada hamah.
-
Pernyataan bahwa tidak ada shofar.
-
Al Fa’l tidak termasuk yang dilarang oleh Rasulullah, bahkan dianjurkan.
-
Penjelasan tentang makna Al Fa’l.
-
Apabila terjadi tathoyyur dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa baginya, bahkan Allah Subhanahu wata’ala akan menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.
-
Penjelasan tentang doa yang dibacanya, saat seseorang menjumpai hal tersebut.
-
Ditegaskan bahwa thiyarah itu termasuk syirik.
-
Penjelasan tentang thiyarah yang tercela dan terlarang.
Catatan Kaki :
([1]) Adwa : penjangkitan
atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi di sini ialah untuk menolak anggapan
mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah, bahwa penyakit berjangkit atau
menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah. Anggapan inilah yang
ditolak oleh Rasulullah, bukan keberadaan penjangkitan atau penularan, sebab
dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan :
(وفروا من
المجذوم كما تفروا من الأسد)
“… dan menjauhlah dari orang
yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR.
Bukhori).
Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit
dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi,
namun sebagai insan muslim di samping iman kepada takdir tersebut haruslah
berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana
usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir
Ilahi.
Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib
buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Hamah : burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa
bernasib sial dengan melihatnya, apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah
salah seorang diantara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita
kematian tentang dirinya sendiri, atau salah satu anggota keluarganya. Dan
maksud beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi
seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah
dan sudah ditentukan olehNya.
Shafar : bulan kedua dalam tahun hijriyah, yaitu
bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini
membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada
oleh Rasulullah. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini : merasa bahwa hari
rabu mendatangkan sial, dan lain lain. Hal ini termasuk jenis thiyarah,
dilarang dalam Islam.
Nau’ : bintang, arti asalnya adalah : tenggelam atau
terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan kepada
bintang ini, atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini,
bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu
adalah ketentuan dari Allah.
Ghaul : hantu (gendruwo), salah satu makhluk
jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun
warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda
Nabi di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi
menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada
selain Allah, serta tidak bertawakkal kepadaNya, inilah yang ditolak oleh
beliau, untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda : “Apabila hantu beraksi
manakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan.” Artinya : tolaklah kejahatannya itu
dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam Al Musnad.
Selasa, 04 Agustus 2015
Apa itu Nusyrah
BAB
27
NUSYRAH
Diriwayatkan dari Jabir,
bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika ditanya tentang Nusyrah,
beliau menjawab :
"هي من عمل الشيطان"
“Hal itu termasuk perbuatan
syetan” (HR.Ahmad dengan sanad yang baik, dan Abu Daud)
Imam Ahmad ketika ditanya tentang
nusyrah, menjawab : “Ibnu Mas’ud membenci itu semua.”
Diriwayatkan dalam shoheh
Bukhori, bahwa Qotadah menuturkan : Aku bertanya kepada Said bin Musayyab :
“Seseorang yang terkena sihir atau diguna-guna, sehingga tidak bisa menggauli
istrinya, bolehkah ia diobati dengan menggunakan Nusyrah ?”, ia menjawab :
"لا بأس به إنما يريدون به الإصلاح، فأما
ما ينفع فلم ينه عنه"
“Tidak apa-apa, karena yang mereka
inginkan hanyalah kebaikan untuk menolak mudlarat, sedang sesuatu yang
bermanfaat itu tidaklah dilarang.”
Diriwayatkan dari Al
Hasan Radhiallahu’anhu ia berkata : “Tidak ada yang dapat melepaskan pengaruh
sihir kecuali tukang sihir”.
Ibnul qoyyim menjelaskan
: “Nusyrah adalah penyembuhan terhadap seseorang yang terkena sihir. Caranya ada
dua macam :
Pertama : dengan
menggunakan sihir pula, dan inilah yang termasuk perbuatan syetan. Dan pendapat
Al Hasan diatas termasuk dalam kategori ini, karena masing-masing dari orang
yang menyembuhkan dan orang yang disembuhkan mengadakan pendekatan kepada syetan
dengan apa yang diinginkannya, sehingga dengan demikian perbuatan syetan itu
gagal memberi pengaruh terhadap orang yang terkena sihir itu.
Kedua : Penyembuhan
dengan menggunakan Ruqyah dan ayat-ayat yang berisikan minta perlindungan kepada
Allah, juga dengan obat-obatan dan doa-doa yang diperbolehkan. Cara ini hukumnya
boleh.
Kandungan bab ini
:
-
Larangan Nusyrah.
-
Perbedaan antara Nusyrah yang dilarang dan yang diperbolehkan. Dengan demikian menjadi jelas masalahnya.
Dukun, Tukang Ramal dan Sejenisnya
BAB
26
Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam kitab shohehnya, dari salah seorang istri Nabi, bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من أتى عرافا فسأله عن شيء فصدقه لم تقبل
له صلاة أربعين يوما"
“Barang siapa yang
mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia
mempercayainya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”.
Abu Dawud meriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما
أنزل على محمد ". رواه أبو داود.
“Barang siapa yang
mendatangi seorang dukun, dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka
sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan
kepada Muhammad” (HR. Abu Daud).
Dan diriwayatkan oleh
empat periwayat[1] dan Al Hakim dengan menyatakan :
“Hadits ini shahih menurut kriteria Imam Bukhori dan Muslim” dari Abu Hurairah
Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول
فقد كفر بما أنزل على محمد"
“Barang siapa yang
mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka
sesunggunya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada
Muhammad”.
Abu Ya’la pun
meriwayatkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud seperti yang tersebut di atas,
dengan sanad Jayyid.
Al Bazzar dengan sanad
Jayyid meriwayatkan hadits marfu’ dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"ليس منا من تطير أو تطير له، أو تكهن أو
تكهن له، أو سحر أو سحر له، ومن أتى كاهنا فصدقه فقد كفر بما أنزل على محمد " رواه
البزار بإسناد جيد.
“Tidak termasuk golongan
kami orang yang meminta dan melakukan Tathoyyur, meramal atau minta diramal,
menyihir atau minta disihirkan, dan barang siapa yang mendatangi dukun lalu
mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap
wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad.
Hadits ini diriwayatkan
pula oleh At Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas
tanpa menyebutkan kalimat : “dan barang siapa mendatangi …”dst.
Imam Al Baghowi
([2]) berkata : “Al Arraf (peramal)
adalah orang yang mendakwahkan dirinya mengetahui banyak hal dengan menggunakan
isyarat-isyarat yang dipergunakan untuk mengetahui barang curian atau tempat
barang yang hilang dan semacamnya. Ada pula yang mengatakan : ia adalah Al Kahin
(dukun) yaitu : orang yang bisa memberitahukan tentang hal-hal yang ghoib yang
akan terjadi dimasa yang akan datang. Dan ada pula yang mengatakan : ia adalah
orang yang bisa memberitahukan tentang apa-apa yang ada dihati
seseorang”.
Menurut Abul Abbas Ibnu
Taimiyah : “Al Arraf adalah sebutan untuk dukun, ahli nujum, peramal nasib dan
sejenisnya yang mendakwahkan dirinya bisa mengetahui hal hal ghaib dengan
cara-cara tersebut.”
Ibnu Abbas berkata
tentang orang-orang yang menulis huruf huruf أبا جا د sambil mencari rahasia huruf, dan
memperhatikan bintang-bintang : “Aku tidak tahu apakah orang yang melakukan hal
itu akan memperoleh bagian keuntungan di sisi Allah”.
Kandungan bab ini
:
-
Tidak dapat bertemu dalam diri seorang mukmin antara iman kepada Al Qur’an dengan percaya kepada tukang ramal, dukun dan sejenisnya.
-
Pernyataan Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bahwa mempercayai ucapan dukun adalah kufur.
-
Ancaman bagi orang yang minta diramalkan.
-
Ancaman bagi orang yang minta di tathoyyur.
-
Ancaman bagi orang yang minta disihirkan.
-
Ancaman bagi orang yang menulis huruf huruf أباجاد [untuk mencari pelamat rahasia].
-
Perbedaan antara Kahin dan Arraf, bahwa kahin (dukun) ialah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang yang diperoleh dari syetan penyadap berita di langit.
Catatan Kaki :
([1]) Yakni : Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai’ dan Ibnu
Majah.
([2]) Abu Muhammad Al Husain bin
Mas’ud bin Muhammad Al Farra’, atau Ibn Farra’ Al- Baghawi. Diberi gelar Muhyi
Sunnah. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain : syarh as sunnah, al jami’
baina ash shahihain. Lahir tahun 436 H (1044 M), dan meninggal tahun 510 H (1117
M).
Macam-macam Sihir
BAB
25
MACAM MACAM
SIHIR
Imam Ahmad meriwayatkan
: telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far dari Auf dari Hayyan
bin ‘Ala’ dari Qathan bin Qubaishah dari bapaknya, bahwa ia telah mendengar
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إن العيافة والطرق والطيرة من
الجبت"
“Iyafah, Tharq
dan Thiyarah adalah termasuk Jibt”
Auf menafsiri hadits ini
dengan mengatakan :
Iyafah adalah meramal nasib orang
dengan menerbangkan burung.
Tharq adalah meramal nasib orang
dengan membuat garis diatas tanah.
Jibt adalah sebagaimana yang telah
dikatakan oleh Hasan : suara syetan. (hadits tersebut sanadnya jayyid). Dan
diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya
dengan hanya menyebutkan lafadz hadits dari Qabishah, tanpa menyebutkan
tafsirannya.
Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من
السحر، زاد ما زاد" رواه أبو داود
وإسناده صحيح.
“Barang siapa yang
mempelajari sebagian dari ilmu nujum (perbintangan) sesungguhnya dia telah
mempelajari sebagian ilmu sihir. semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum)
semakin bertambah pula (dosanya)” (HR. Abu Daud dengan sanad yang
shahih).
An-Nasai meriwayatkan hadits dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"من عقـد عقـدة ثم نفث فيها فقـد سحر، ومن
سحر فقـد أشرك، ومن تعـلق شيئا وكل إليـه"
“Barang siapa yang
membuat suatu buhulan, kemudian meniupnya (sebagaimana yang dilakukan oleh
tukang sihir) maka ia telah melakukan sihir, dan barang siapa yang melakukan
sihir maka ia telah melakukan kemusyrikan, dan barang siapa yang menggantungkan
diri pada sesuatu benda (jimat), maka ia dijadikan Allah bersandar kepada benda
itu”.
Dari Ibnu Mas’ud
Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"ألا هل أنبئكم ما العضه ؟ هي النميمة القالة
بين الناس " رواه مسلم.
“Maukah kamu aku
beritahu apakah Adh-h itu ?, ia adalah perbuatan mengadu domba, yaitu banyak
membicarakan keburukan dan menghasut diantara manusia” (HR. Muslim).
Dan ibnu Umar
Radhiallahu’anhu menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"إن من البيان لسحرا"
“Sesungguhnya di antara
susunan kata yang indah itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan
Muslim)
Kandungan bab ini
:
-
Diantara macam sihir (Jibt) adalah iyafah, thorq dan thiyarah.
-
Penjelasan tentang makna iyafah, thorq dan thiyarah.
-
Ilmu nujum (perbintangan) termasuk salah satu jenis sihir.
-
Membuat buhulan dengan ditiupkan kepadanya termasuk sihir.
-
Mengadu domba juga termasuk perbuatan sihir.
-
Keindahan susunan kata (yang membuat kebatilan seolah-olah kebenaran dan kebenaran seolah-olah kebatilah) juga termasuk perbuatan sihir.
Hukum Sihir
BAB
24
HUKUM S I H
I R
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]ولقد علموا لمن اشتراه ما له في الآخرة من
خلاق[
“Demi Allah, sesungguhnya
orang-orang Yahudi itu telah meyakini bahwa barang siapa yang menukar (kitab
Allah) dengan sihir itu, maka tidak akan mendapatkan bagian (keuntungan) di
akherat” (QS. Al Baqarah, 102).
]يؤمنون بالجبت والطاغوت[
“Dan mereka beriman kepada Jibt
dan Thoghut” (QS. An nisa’, 51).
Menurut penafsiran Umar
bin Khothob Radhiallahu’anhu : Jibt adalah sihir, sedangkan Thoghut adalah
syetan.
Sedangkan Jabir
Radhiallahu’anhu berkata : Thoghut adalah para tukang ramal yang didatangi
syetan, yang ada pada setiap kabilah.
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"اجتنبوا السبع الموبقات، قالوا : يا رسول
الله وما هن، قال : الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل
الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات الغافلات
المؤمنات".
“Jauhilah tujuh perkara
yang membawa kehancuran !, para sahabat bertanya : “Apakah ketujuh perkara itu
ya Rasulullah ?”, beliau menjawab :” yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh
jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan oleh agama,
makan riba, makan harta anak yatim, membelot dari peperangan, menuduh zina
terhadap wanita yang terjaga dirinya dari perbuatan dosa dan tidak memikirkan
untuk melakukan dosa, dan beriman kepada Allah” (HR. Bukhori dan
Muslim).
Diriwayatkan dari
Jundub bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits marfu’
:
"حد الساحر ضربة بالسيف " رواه الترمذي،
وقال : الصحيح أنه موقوف.
“Hukuman bagi tukang
sihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang” (HR. Imam Turmudzi, dan ia
berkata : pendapat yang benar ini perkataan sahabat).
Dalam shoheh Bukhori,
dari Bajalah bin Abdah, ia berkata : “Umar bin Khothob telah mewajibkan untuk
membunuh setiap tukang sihir, baik laki-laki maupun perempuan, maka kami telah
membunuh tiga tukang sihir.”
Dan dalam shoheh Bukhori
juga, Hafsah, ra. telah memerintahkan untuk membunuh budak perempuannya yang
telah menyihirnya, maka dibunuhlah ia, dan begitu juga riwayat yang shoheh dari
Jundub.
Imam Ahmad berkata :
“Diriwayatkan dalam hadits shoheh, bahwa hukuman mati terhadap tukang sihir ini
telah dilakukan oleh tiga orang sahabat Nabi (Umar, Hafsah dan
Jundub).
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Baqarah ([1]).
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’([2]).
-
Penjelasan tentang makna Jibt dan Thoghut, serta perbedaan antara keduanya.
-
Thoghut itu kadang-kadang dari jenis Jin, dan kadang-kadang dari jenis manusia.
-
Mengetahui tujuh perkara yang bisa menyebabkan kehancuran, yang dilarang secara khusus oleh Nabi.
-
Tukang sihir itu kafir.
-
Tukang sihir itu dihukum mati tanpa diminta taubat lebih dahulu.
-
Jika praktek sihir itu telah ada dikalangan kaum muslimin pada masa Umar, bisa dibayangkan bagaimana pada masa sesudahnya ?.
Catatan Kaki :
([1]) Ayat pertama menunjukkan bahwa
sihir haram hukumnya, dan pelakunya kafir, disamping mengandung ancaman berat
bagi orang yang berpaling dari kitab Allah, dan mengamalkan amalan yang tidak
bersumber darinya.
([2]) Ayat kedua menunjukkan bahwa
ada diantara umat ini yang beriman kepada sihir (Jibt), sebagaimana ahli kitab
beriman kepadanya, karena Rasulullah telah menegaskan bahwa akan ada diantara
umat ini yang mengikuti (dan meniru) umat-umat
sebelumnya.
Penyembah Berhala
BAB
23
PENJELASAN
BAHWA SEBAGIAN UMAT INI ADA
YANG
MENYEMBAH BERHALA
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت
والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين آمنوا سبيلا[
“Tidakkah kamu
memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab ?, mereka beriman
kepada Jibt dan Thoghut
([1]), dan mengatakan kepada
orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari
orang-orang yang beriman.” (QS. An nisa’, 51 ).
]قل هل أنبئكم بشر من ذلك مثوبة عند الله، من لعنه الله
وغضب عليه، وجعل منهم القردة والخنازير وعبد الطاغوت[.
“Katakanlah :” maukah
aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari
pada (orang-orang fasik) itu dihadapan Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati
dan dimurkai, dan diantara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan
orang-orang yang menyembah Thoghut” (QS. Al maidah, 60).
]قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم
مسجدا[
“…Orang-orang yang
berkuasa atas urusan mereka berkata: “sungguh kami
akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas gua mereka”.” (QS. Al kahfi,
21).
Dari Abu
Saidt, Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
"لتتبعن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة،
حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه"، قالوا : يا رسول الله، اليهود والنصارى ؟ قال :"
فمن ؟ " أخرجه البخاري ومسلم.
“Sungguh kalian akan
mengikuti (meniru) tradisi umat-umat sebelum kalian selangkah demi selangkah
sampai kalaupun mereka masuk kedalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke
dalamnya pula.”, para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, orang-orang yahudi dan
Nasranikah ?”, beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab : “siapa lagi ?” (HR.
Buhkhori dan Muslim).
Imam Muslim meriwayatkan
dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إن الله زوى لي الأرض، فرأيت مشارقها
ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها، وأعطيت كنـزين : الأحمر والأبيض،
وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة بعامة، وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى
أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإن ربي قال : يا محمد إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يرد،
وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا أسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم
فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم من بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك بعضا، ويسبي
بعضهم بعضا".
“Sungguh Allah telah
membentangkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan barat,
dan sungguh kekuasaan umatku akan sampai pada belahan bumi yang telah
dibentangkan kepadaku itu, dan aku diberi dua simpanan yang berharga, merah dan
putih (imperium Persia dan Romawi), dan aku minta kepada Rabbku untuk umatku
agar jangan dibinasakan dengan sebab kelaparan (paceklik) yang berkepanjangan,
dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga
musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka.
Lalu Rabb berfirman :
“Hai Muhammad, jika aku telah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan itu tak
akan bisa berubah, dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu
untuk tidak dibinasakan dengan sebab paceklik yang berkepanjangan, dan tidak
akan dikuasai oleh musuh selain dari kaum mereka sendiri, maka musuh itu tidak
akan bisa merampas seluruh negeri mereka, meskipun manusia yang ada di jagat
raya ini berkumpul menghadapi mereka, sampai umatmu itu sendiri sebagian
menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian meraka menawan sebagian yang
lain.”
Hadits ini diriwayatkan
pula oleh Al barqoni dalam sholehnya dengan tambahan :
"وإني أخاف على أمتى الأئمة المضلين، وإذا
وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة، ولا تقوم الساعة حتى يلحق حي من أمتى
بالمشركين، وحتى تعبد فئام من أمتى الأوثان، وإنه سيكون في أمتى كذابون ثلاثون،
كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين، لا نبي بعدي، ولا تزال طائفة من أمتى على
الحق منصورة، لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم، حتى يأتي أمر الله تبارك
وتعالى".
“Dan yang aku
khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah adanya pemimpin yang menyesatkan,
dan ketika terjadi pertumpahan darah diantara mereka, maka tidak akan berakhir
sampai datangnya hari kiamat, dan hari kiamat tidak akan kunjung tiba kecuali
ada diantara umatku yang mengikuti orang musyrik, dan sebagian lain yang
menyembah berhala, dan sungguh akan ada pada umatku 30 orang pendusta, yang
mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lain
setelah aku, meskipun demikian akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap
tegak membela kebenaran, dan mereka selalu mendapat pertolongan Allah ta'ala,
mereka tak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dan memusuhi
mereka, sampai datang keputusan Allah”.
Kandungan dalam bab
ini :
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’([2]).
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Maidah ([3]).
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Kahfi ([4]).
-
Masalah yang sangat penting sekali, yaitu pengertian tentang beriman terhadap Jibt dan thoghut, apakah sekedar mempercayainya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang-barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya ?.
-
[sebagai buktinya], apa yang dikatakan oleh Ahli kitab kepada orang-orang kafir (kaum Musyrikin Makkah) bahwa mereka lebih benar jalannya dari pada orang-orang yang beriman.
-
Iman kepada Jibt dan Thoghut pasti akan terjadi di kalangan umat ini (umat Islam), sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits Abu Said. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.
-
Pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwa akan terjadi penyembahan berhala dari kalangan umat ini.
-
Satu hal yang amat mengherankan adalah menculnya orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi, seperti Al Mukhtar bin Abu Ubaid Ats tsaqafi ([5]); padahal ia mengucapkan dua kalimah syahadat, dan menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat Muhammad, dan ia meyakini bahwa Rasulullah itu haq dan Al Qur’an juga haq, yang didalamnya diterangkan bahwa Muhammad adalah penutup para Nabi. Walaupun demikian ia dipercayai banyak orang, meskipun adanya kontradiksi yang jelas sekali. Ia hidup pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira bahwa al haq (kebenaran Allah dan ajaranNya) tidak akan dapat dilenyapkan sama sekali, sebagaimana yang terjadi pada masa lalu, tetapi masih akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang teguh dan membela kebenaran.
-
Bukti kongkritnya adalah : mereka walaupun sedikit jumlahnya, tetapi tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan dan menentang mereka.
-
Kondisi seperti ini akan berlangsung sampai hari kiamat.
-
Bukti bukti akan kenabian Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang terkandung dalam hadits ini adalah :
Pemberitahuan beliau bahwa Allah telah membentangkan kepadanya belahan bumi sebelah barat dan timur, dan menjelaskan makna dari hal itu, kemudian terjadi seperti yang beliau beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara. Pemberitahuan beliau bahwa beliau diberi dua simpanan yang berharga. Pemberitahuan beliau bahwa do’anya untuk umatnya dikabulkan dalam dua hal, sedangkan hal yang ketiga tidak dikabulkan. Pemberitahuan beliau bahwa akan terjadi pertumpahan darah diantara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari kiamat. Pemberitahuan beliau bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain. Pemberitahuan beliau tentang munculnya orang-orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi pada umat ini. Pemberitahuan beliau bahwa akan akan tetap ada sekelompok orang dari umat ini yang tegak membela kebenaran, dan mendapat pertolongan Allah.
Dan itu semua benar benar telah
terjadi seperti yang telah diberitahukan, padahal semua yang diberitahukan itu
diluar jangkauan akal manusia.
-
Apa yang beliau khawatirkan terhadap umatnya hanyalah munculnya para pemimpin yang menyesatkan.
-
Perlunya perhatian terhadap makna dari penyembahan berhala.
([1]) Terdapat bebarapa penafsiran
dari kalangan salaf, tentang makna Jibt, antara lain : berhala, sihir, tukang
sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthob dan Ka’ab bin Al Asyraf ( kedua orang ini
adalah tokoh orang orang yahudi di zaman Rasulullah). Dengan demikian,
pengertian umum mencakup makna ini semua, sebagaimana yang dikatakan oleh Al
Jauhari dalam Ash Shihah : “ Jibt adalah kata kata yang dapat digunakan untuk
berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya ..”
Demikian halnya dengan kata kata thoghut, terdapat
beberapa penafsiran, yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain : syetan,
syetan dalam wujud manusia, behala, tukang ramal, Ka’ab Al Asyraf.
Ibnu Jarir Ath Thobari, dalam menafsirkan ayat ini,
setelah menyebutkan beberapa penafsiran ulama salaf, mengatakan : “ … Jibt dan
thoghut ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain
Allah, atau ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu batu, manuisa
ataupun syetan.
([2]) Ayat ini menunjukkan bahwa
apabila orang-orang yang diturunkan kepada mereka Al Kitab mau beriman kepada
Jibt dan Thoghut, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini
yang telah diturunkan kepadanya Al Qur’an akan berbuat pula seperti yang mereka
perbuat, karena Rasulullah telah memberitahukan bahwasanya akan ada di diantara
umat ini orang-orang yang berbuat seperti apa yang diperbuat oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani.
([3]) Ayat ini menunjukkan bahwa
akan terjadi di kalangan umat ini penyembahan thaghut, sebagaimana telah terjadi
penyembahan thaghut di kalangan ahli kitab.
([4]) Ayat ini menunjukkan bahwa ada
di antara umat ini orang yang membangun tempat ibadah di atas atau di sekitar
kuburan, sebagaimana telah dilakukan oleh orang orang sebelum
mereka.
([5]) Al Mukhtar bin Abu Ubaid bin
Mas’ud Ats Tsaqafi. Termasuk tokoh yang memberontak terhadap kekuasaan Bani
Umayyah dan menonjolkan kecintaan kepada Ahlu bait. Mengaku bahwa ia adalah nabi
dan menerima wahyu. Di bunuh oleh Mush’ab bin Az Zubair pada tahun 67 H. ( 687 M
).
Memurnikan Tauhid
BAB
22
UPAYA
RASULULLAH DALAM MENJAGA TAUHID
DAN MENUTUP
JALAN YANG MENUJU KEPADA KEMUSYRIKAN
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم
بالمؤمنين رؤوف رحيم[
“Sungguh telah datang kepadamu
seorang Rasul dari kaummu sediri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi
penyayang kepada orang-orang mu’min.” (QS. At Taubah, 128).
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"لا تجعلوا
بيوتكم
قبورا، ولا تجعلوا قبري عيدا، وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم" رواه أبو داود
بإسناد حسن ورواته ثقات.
“Janganlah kalian
jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian jadikan
kuburanku sebagai tempat perayaan, ucapkanlah sholawat untukku, karena
sesungguhnya ucapan sholawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian
berada” (HR. Abu Daud dengan sanad yang baik, dan para perowinya
tsiqoh).
Dalam hadits yang lain,
Ali bin Al Husain Radhiallahu’anhu menuturkan, bahwa ia melihat seseorang masuk
kedalam celah-celah yang ada pada kuburan Rasulullah, kemudian berdo’a, maka ia
pun melarangnya seraya berkata kepadanya : “Maukah kamu aku beritahu sebuah
hadits yang aku dengar dari bapakku dari kakekku dari Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda:
"لا تتخذوا قبري عيدا، ولا بيوتكم قبورا،
وصلوا علي فإن تسليمكم يبلغني حيث كنتم"
“Janganlah kalian
jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kalian jadikan
rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan ucapkanlah doa salam untukku, karena doa
salam kalian akan sampai kepadaku dari mana saja kalian berada” (diriwayatkan
dalam kitab Al Mukhtarah).
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Baro’ah ([1]).
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjauhkan umatnya dari jalan yang menuju kepada kemusyrikan, serta menutup setiap jalan yang menjurus kepadanya.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kita, dan amat belas kasihan lagi penyayang kepada kita.
-
Larangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk tidak menziarahi kuburannya dengan cara tertentu, [yaitu dengan menjadikannya sebagai tempat perayaan], padahal menziarahi kuburan beliau termasuk amalan yang amat baik.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melarang seseorang banyak melakukan ziarah kubur.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan untuk melakukan sholat sunnah di dalam rumah.
-
Satu hal yang sudah menjadi ketetapan dikalangan kaum salaf, bahwa menyampaikan sholawat untuk Nabi tidak perlu masuk di dalam kuburannya.
-
Alasannya karena sholawat dan salam seseorang untuk beliau akan sampai kepada Beliau dimanapun ia berada, maka tidak perlu harus mendekat, sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang.
-
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di alam barzakh, akan ditampakkan seluruh amalan umatnya yang berupa sholawat dan salam untuknya.
Catatan Kaki :
([1]) Ayat ini, dengan sifat-sifat
yang disebutkan didalamnya untuk pribadi Nabi Muhammad, menunjukkah bahwa beliau
telah memperingatkan umatnya agar menjauhi syirik, yang merupakan dosa paling
besar, karena inilah tujuan utama diutusnya Rasulullah.




