Tampilkan postingan dengan label Pemurnian aqidah. Tampilkan semua postingan

Sifat-sifat Para Malaikat


BAB 16
MALAIKAT MAKHLUK YANG PERKASA
BERSUJUD KEPADA ALLAH ([1]).

           Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو العلي الكبير[
          “Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka (malaikat), mereka berkata : apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?, mereka menjawab : perkataan yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar” (QS. Saba’, 23).

          Diriwayatkan dalam kitab shohehnya Imam Bukhori, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانا لقوله، كأنه سلسلة على صفوان ينفذهم ذلك، ]حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو العلي الكبير[، فيسمعها مسترق السمع، ومسترق السمع هكذا بعضه فوق بعض – وصفه سفيان بكفه، فحرفها وبدد بين أصابعه – فيسمع الكلمة فيلقيها إلى من تحته، ثم يلقيها الآخر إلى من تحته، حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن، فربما أدركه الشهاب قبل أن يلقيها، وربما ألقاها قبل أن يدركه، فيكذب معها مائة كذبة، فيقال : أليس قد قال لنا يوم كذا وكذا ؟ فيصدق بتلك الكلمة التي سمعت من السماء".
          “Apabila Allah menetapkan suatu perintah diatas langit, para malaikat mengibas-ngibaskan sayapnya, karena patuh akan  firmanNya, seolah-olah firman yang didengarnya itu bagaikan gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal ini memekakkan mereka (sehingga jatuh pingsan karena ketakutan), “sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka berkata : “apakah yang telah difirmankan oleh tuhanmu ?”  mereka menjawab : “ (perkataan) yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar”, ketika itulah (syetan-syetan) pencuri berita mendengarnya, pencuri berita itu sebagian diatas sebagian yang lain - Sufyan bin Uyainah ([2]) menggambarkan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya - ketika mereka (penyadap berita) mendengar berita itu, disampaikanlah kepada yang ada dibawahnya, dan seterusnya, sampai ke tukang sihir dan tukang ramal, tapi kadang-kadang syetan pencuri berita itu terkena syihab (meteor)  sebelum sempat menyampaikan berita itu, dan kadang-kadang sudah sempat menyampaikan berita sebelum terkena syihab, kemudian dengan satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir dan tukang ramal itu melakukan seratus macam kebohongan, mereka mendatangi tukang sihir dan tukang ramal seraya berkata : bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar), sehingga ia dipercayai dengan sebab kalimat yang didengarnya dari langit”.

          An–Nawwas bin Sam’an Radhiallahu’anhu menuturkan bahwa Rasulullah, bersabda :
" إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة، أو قال : رعدة شديدة خوفا من الله U، فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا وخروا سجدا، فيكون أول من يرفع رأسه جبريل ، فيكلمه الله من وحيه بما أراد، ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها : ماذا قال ربنا يا جبريل ؟، فيقول جبريل : قال الحق وهو العلي الكبير، فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل، فينتهى جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله".
          “Apabila Allah Subhanahu wata’ala hendak mewahyukan perintahnya, maka Dia firmankan wahyu tersebut, dan langit-langit bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah, dan ketika para malaikat mendengar firman tersebut mereka pingsan dan bersujud, dan diantara mereka yang pertama kali bangun adalah Jibril, maka Allah sampaikan wahyu yang Ia kehendakiNya kepadanya, kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap ia melewati langit maka para penghuninya bertanya kepadanya : “apa yang telah Allah firmankan kepadamu ?”, Jibril menjawab : “Dia firmankan yang benar, dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, dan seluruh malaikat yang ia lewati bertanya kepadanya seperti pertanyaan pertama, demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepadanya.”

    Kandungan bab ini :
  1. Penjelasan tentang ayat yang telah disebutkan di atas ([3]).
  2. Ayat tersebut mengandung argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang sholeh, dan ayat itu juga memutuskan akar-akar pohon syirik yang ada dalam hati seseorang.
  3. Penjelasan tentang firman Allah : “mereka menjawab : “(perkataan) yang benar” dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ([4])”
  4. Menerangkan tentang sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.
  5. Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan perkataan : “Dia firmankan yang benar …”
  6. Menyebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.
  7. Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh  malaikat penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.
  8. Para malaikat penghuni langit jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah.
  9. Langitpun bergetar keras ketika mendengar firman Allah itu.
  10. Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu itu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
  11. Hadits di atas menyebutkan tentang adanya syetan-syetan yang mencuri berita wahyu.
  12. Cara mereka mencuri berita, sebagian mereka naik di atas sebagian yang lain.
  13. Peluncuran syihab (meteor) untuk menembak jatuh syetan-syetan pencuri berita.
  14. Adakalanya syetan pencuri berita itu terkena syihab sebelum sempat menyampaikan berita yang didengarnya, dan adakalanya sudah sempat menyampaikan berita ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.
  15. Adakalanya ramalan tukang ramal itu benar.
  16. Dengan berita yang diterimanya ia melakukan seratus macam kebohongan.
  17. Kebohongannya tidak akan dipercaya kecuali karena adanya berita dari langit (melalui syetan penyadap berita).
  18. Kecenderungan manusia untuk menerima suatu kebatilan, bagaimana mereka bisa bersandar hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan oleh tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.
  19. Satu kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya, lalu dijadikan sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan oleh tukang ramal itu benar.
  20. Menetapkan sifat-sifat Allah (seperti yang terkandung dalam hadits diatas), berbeda dengan faham Asy’ariyah yang mengingkarinya.
  21. Penjelasan bahwa bergetarnya langit dan pingsanya para malaikat itu disebabkan karena rasa takut mereka kepada Allah.
  22. Para malaikat pun bersimpuh sujud kepada Allah.
 Catatan Kaki :
 ([1])   Bab ini menjelaskan bukti lain yang menunjukkan kebhatilan syirik dan hanya Allah yang berhak dengan segala macam ibadah. Karena apabila para malaikat, sebagai makhluk yang sangat perkasa dan paling kuat, bersimpuh sujud di hadapan Allah yang Maha tinggi dan Maha besar ketika mendengar firmanNya, maka tidak ada yang berhak dengan ibadah, puja dan puji, sanjungan dan pengagungan kecuali Allah.
([2])   Sufyan bin Uyainah bin Maimun Al Hilali, salah seorang periwayat hadits ini.
([3])   Ayat ini menerangkan keadaan para malaikat, yang mana mereka  adalah makhluk Allah yang paling kuat dan amat perkasa yang disembah oleh orang-orang musyrik. Apabila demikian keadaan meraka dan rasa takut mereka kepada Allah ketika Allah berfirman, maka apakah pantas mereka dijadikan sesembahan selain Allah ? tentu tidak pantas, dan makhluk selain mereka lebih tidak pantas lagi.
([4])   Firman Allah ini menunjukkan : bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan), karena mereka berkata : “ Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?”, menunjukkan pula bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhlukNya, dan Maha Besar yang kebesaranNya tidak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.

Menyembah kepada selain Alloh


BAB 15
TIDAK SEORANGPUN YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]أيشركون ما لا يخلق شيئا وهم يخلقون ولا يستطيعون لهم نصرا ولا أنفسهم ينصرون[
          “Apakah mereka mempersekutukan (Allah) dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun ? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang, dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah   penyembahnya  dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf, 191-192).
]والذين تدعون من دونه ما يملكون من قطمير إن تدعوهم لا يسمعوا دعاءكم ولو سمعوا ما استجابوا لكم ويوم القيامة يكفرون بشرككم ولا ينبئك مثل خبير[
          “Dan sesembahan-sesembahan yang kalian mohon selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu, kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu, dan pada hari kiamat meraka akan mengingkari kemusyrikanmu, dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir 13-14).

Diriwayatkan dalam shoheh (Bukhori dan Muslim) dari Anas bin Malik, ia berkata :
شج النبي  يوم أحد، وكسرت رباعيته، فقال : " كيف يفلح قوم شجوا نبيهم "، فنـزلت ] ليس لك من الأمر شيء
“Ketika perang uhud Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam terluka kepalanya, dan pecah gigi serinya, maka beliau bersabda : “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabinya ?” kemudian turunlah ayat : “Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”. (QS. Ali Imran 128).”
Dan diriwayatkan dalam shoheh Bukhori Ibnu Umar Radhiallahu’anhu bahwa ia  mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda ketika beliau berdiri dari ruku’ pada rakaat yang terahir dalam sholat shubuh :
اللهم العن فلانا وفلانا "، بعد ما يقول :" سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد "، فأنزل الله ] ليس لك من الأمر شيء.
“Ya Allah, laknatilah si fulan dan sifulan”, setelah beliau mengucapkan : سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد , setelah itu turunlah firman Allah :
]ليس لك من الأمر شيء[
“Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”.

Dalam riwayat yang lain : “Beliau mendoakan semoga Shofwan bin Umayah, Suhail bin Amr, dan Al Harits bin Hisyam dijauhkan dari rahmat Allah”, maka  turunlah ayat :
]ليس لك من الأمر شيء[
“Tak ada hak apapun bagimu dalam urusan mereka itu”.

Diriwayatkan pula dalam shoheh Bukhori dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu ia berkata : “ketika diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam firman Allah Subhanahu wata’ala :
]وأنذر عشيرتك الأقربين[
“Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS. Asy Syu’ara, 214)

Berdirilah beliau dan bersabda : “Wahai orang-orang quraisy, tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya). sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan Allah untuk kalian. Wahai Abbas bin Abdul Mutholib, sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu dihadapan Allah, wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu  dihadapan Allah nanti, wahai Fatimah binti Rasulullah, mintalah kepadaku apa saja yang kau kehendaki, tapi sedikitpun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu  dihadapan Allah nanti”.

    Kandungan bab ini :
  1. Penjelasan tentang kedua ayat tersebut diatas ([1]).
  2. Kisah perang uhud.
  3. Rasulullah, pemimpin para rasul, dalam sholat subuh telah membaca qunut sedang para sahabat dibelakangnya mengamini.
  4. Orang-orang yang beliau doakan semoga Allah menjauhkan rahmatNya dari mereka adalah orang-orang kafir.
  5. Mereka telah melakukan perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir yang lain, antara lain melukai kepala Rasulullah, dan berupaya untuk membunuh beliau, serta mengkoyak-koyak tubuh para korban  yang  terbunuh, padahal yang terbunuh itu adalah sanak famili mereka.
  6. Terhadap peristiwa itulah Allah menurunkan firmanNya beliau :
]ليس لك من الأمر شيء[
  1. Allah berfirman : [أو يتوب عليهم أو يعذبهم]
        “Atau Allah terima taubat mereka, atau menyiksa mereka” (QS. Ali Imran, 128).
       Kemudian Allah pun menerima taubat mereka, dengan masuknya mereka kedalam agama Islam, dan menjadi orang orang yang beriman.
  1. Dianjurkannya melakukan qunut nazilah, yaitu : qunut yang dilakukan ketika umat Islam dalam keadaan mara bahaya.
  2. Menyebutkan nama-nama mereka beserta nama orang tua mereka ketika didoakan terlaknat di dalam sholat, tidak membatalkan sholat.
  3. Boleh melaknat orang kafir tertentu didalam qunut.
  4. Kisah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika diturunkan kepada beliau firman Allah “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”.
  5. Kesungguhan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesutu yang menyebabkan dirinya dituduh gila, demikian halnya apabila dilakukan oleh orang mukmin pada masa sekarang.
  6. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memperingatkan keluarganya yang paling jauh kemudian yang terdekat dengan sabdanya : “sedikitpun Aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu dihadapan Allah nanti” sampai beliau bersabda : “wahai Fatimah putri Rasul, aku tidak bisa berbuat untukmu apa-apa dihadapan Allah nanti”.
  7. Jika beliau sebagai pemimpin para rasul telah berterus terang tidak bisa membela putrinya sendiri pemimpin kaum wanita di jagat raya ini, dan jika orang mengimani  bahwa apa yang beliau katakan itu benar, kemudian  jika dia memperhatikan  apa yang terjadi pada diri kaum khowash ([2]) dewasa ini, maka akan tampak baginya bahwa tauhid ini sudah ditinggalkan, dan tuntunan agama sudah menjadi asing.
       Catatan Kaki :


([1])   Kedua ayat tersebut menunjukkan kebhatilan syirik mulai dari dasarnya, karena makhluk yang lemah ini, yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, tidak dapat dijadikan sebagai sandaran sama sekali, dan menunjukkan pula bahwa Allah lah yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia.
([2])   Kaum Khowash ialah : orang orang tertentu yang ditokohkan dalam masalah agama, dan merasa bahwa dirinya patut diikuti, disegani dan diminta berkah doanya.

Berdoa kepada selain Alloh adalah Syirik


BAB 14
BERDO’A KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK.
 Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين[
“Dan janganlah kamu memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik)” (QS. Yunus, 106).
]وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم[
“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang”(QS. Yunus, 107).
]إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقا فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له إليه ترجعون[
“Sesungguhnya mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka  mintalah  rizki  itu  pada  Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyurkurlah kepadaNya. Hanya kepada Nya lah kamu sekalian dikembalikan.”  (QS. Al  Ankabut, 17).
]ومن أضل ممن يدعو من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم القيامة وهم عن دعائهم غافلون وإذا حشر الناس كانوا لهم أعداء وكانوا بعبادتهم كافرون[
“Dan tiada yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka.” (QS. Al Ankabut, 5-6).
]أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء ويجعلهم خلفاء الأرض أإله مع الله قليلا ما تذكرون[
“Atau siapakah yang mengabulkan (do’a) orang-orang yang dalam kesulitan disaat ia berdo’a kepadaNya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi kholifah di bumi ? adakah sesembahan (yang haq) selain Allah ? amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” (QS. An Naml, 62).

          Imam At-Thabrani dengan menyebutkan sanadnya meriwayatkan bahwa : “Pernah ada pada zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang mu’min, maka salah seorang di antara  orang mu’min berkata : “Marilah kita bersama-sama memohon perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini”, ketika itu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab
"إنه لا يستغاث بي وإنما يستعاث بالله"
“Sesungguhnya aku tidak boleh dimintai perlindungan, hanya Allah sajalah yang boleh dimintai perlindungan”.
     Kandungan bab ini :
  1. Istighotsah itu pengertiannya lebih khusus dari pada berdo’a([1]).
  2. Penjelasan tentang ayat yang pertama ([2]).
  3. Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik besar.
  4. Orang yang paling sholeh sekalipun jika melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia termasuk golongan orang-orang yang dzolim (musyrik).
  5. Penjelasan tentang ayat yang kedua ([3]).
  6. Meminta perlindungan kepada selain Allah tidak dapat mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu termasuk perbuatan kafir.
  7. Penjelasan tentang ayat yang ketiga ([4]).
  8. Meminta rizki itu hanya kepada Allah, sebagaimana meminta surga.
  9. Penjelasan tentang ayat yang ke empat ([5]).
  10. Tidak ada orang yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
  11. Sesembahan selain Allah tidak merasa dan tidak tahu kalau ada orang yang memohon kepadanya.
  12. Sesembahan selain Allah akan benci dan marah kepada orang yang memohon kepadanya pada hari kiamat.
  13. Permohonan ini dianggap ibadah kepada sesembahan selain Allah.
  14. Pada hari kiamat sesembahan selain Allah itu akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
  15. Permohonan kepada selain Allah inilah yang menyebabkan seseorang menjadi orang yang paling sesat.
  16. Penjelasan tentang ayat yang ke lima ([6]).
  17. Satu hal yang sangat mengherankan adalah adanya pengakuan dari para penyembah berhala bahwa tidak ada yang dapat mengabulkan permohonan orang yang berada dalam kesulitan kecuali Allah, untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepadaNya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untukNya.
  18. Hadits di atas menunjukan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk melindungi ketauhidan, dan etika sopan santun beliau kepada Allah.
  Catatan Kaki :


([1])    Istighotsah ialah : meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.
([2])   Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah, karena selainNya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.
([3])   Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighotsah dan sebagainya. Karena hanya Allah yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan sesuatu bahaya kepada seseorang, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Tidak ada seorangpun yang menghalangi kehendakNya.
([4])   Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepadaNya seharusnya kita meminta rizki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rizki.
([5])   Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah ibadah. Karena itu, barang siapa yang menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.
([6])   Ayat kelima menunjukkan bahwa istighotsah  (mohon pertolonan) kepada selain Allah, karena tidak ada yang kuasa kecuali Dia – adalah bathil dan termasuk syirik.

Berlindung kepada selain Alloh


BAB 13
MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH SYIRIK


Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم رهقا[
“Bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan” (QS. Al jin, 6).

Khaulah binti Hakim menuturkan : aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من نزل منـزلا فقال : أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرحل من منـزله ذلك ".  رواه مسلم
“Barang siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia berdo’a :
أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق
(aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) maka tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu” (HR. Muslim).

    Kandungan bab ini :
  1. Penjelasan tentang maksud ayat yang ada dalam surat Al Jin ([1]).
  2. Meminta perlindungan kepada selain Allah (jin) adalah syirik.
  3. Hadits tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah itu bukan makhluk, karena minta perlindungan kepada makhluk itu syirik.
  4. Keutamaan doa ini walaupun sangat singkat.
  5. Sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia, baik dengan menolak kejahatan atau mendatangkan keberuntungan tidak berarti sesuatu itu tidak termasuk syirik.
 Catatan Kaki :

([1])   Dalam ayat ini Allah memberitahukan bahwa ada di antara manusia yang meminta perlindungan kepada jin agar merasa aman dari apa yang mereka khawatirkan, akan tetapi jin itu justru menambah dosa dan rasa khawatir bagi mereka, karena mereka tidak meminta perlindungan kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa isti’adzah (meminta perlindungan(  kepada selain Allah adalah termasuk syirik dan terlarang.

Bernazar untuk selain Alloh adalah Syirik

Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا[
“Mereka menepati nadzar  dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan, 7)
]وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه[
“Dan apapun yang kalian nafkahkan, dan apapun yang kalian nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Al Baqarah, 270).

          Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله فلا يعصه"
“Siapa yang bernadzar untuk mentaati Allah, maka ia wajib mentaatinya, dan barang siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka ia tidak boleh bermaksiat kepadaNya (dengan melaksanakan nadzarnya itu).”

    Kandungan bab ini :
  1. Menunaikan nadzar adalah wajib.
  2. Apabila sudah menjadi ketetapan bahwa nadzar itu ibadah kepada Allah, maka memalingkannya kepada selain Allah adalah syirik.
  3. Dilarang melaksanakan nadzar yang maksiat.



Popular Post

Blogger templates

- Copyright © Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad Abdul Wahab At-Tamimi -Metrominimalist- Powered by Blogger - By Posting Maktabah Al-Calunzy -