Tampilkan postingan dengan label Mengesakan Alloh. Tampilkan semua postingan
Hidayah adalah kehendak Alloh
BAB 18
NABI SAW TIDAK DAPAT MEMBERI
HIDAYAH
KECUALI DENGAN KEHENDAK ALLAH
([1])
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]إنك لا تهدى من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء وهو أعلم
بالمهتدين[
“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad)
tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai,
tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakiNya,
dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al
qoshosh, 56)
Diriwayatkan dalam
shoheh Bukhori, dari Ibnul Musayyab, bahwa bapaknya berkata : “Ketika Abu Tholib
akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah, dan pada saat itu Abdullah bin
Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada disisinya, lalu Rasulullah bersabda kepadanya
:
"يا عم، قل لا إله إلا الله كلمة أحاج لك
بها عند الله"
“Wahai pamanku, ucapkanlah “la
ilaha illallah” kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu dihadapan
Allah”.
Tetapi Abdullah bin Abi
Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Tholib : “Apakah kamu membenci agama
Abdul Muthollib ?”, kemudian Rasulullah mengulangi sabdanya lagi, dan mereka
berduapun mengulangi kata-katanya pula, maka ucapan terakhir yang dikatakan oleh
Abu Tholib adalah : bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Mutholib,
dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat la ilah illallah, kemudian Rasulullah
bersabda : “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu pada Allah, selama aku tidak
dilarang”, lalu Allah menurunkan firmanNya :
]ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا
للمشركين[
“Tidak layak bagi seorang Nabi
serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan (kepada Allah) bagi
orang-orang musyrik” (QS. Al bara’ah, 113).
Dan berkaitan dengan Abu
Tholib, Allah menurunkan firmanNya :
]إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من
يشاء[
“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad)
tak sanggup memberikan hidayah)
petunjuk)
kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendakiNya” (QS. Al Qoshosh, 57)
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat 57 surat Al Qoshosh ([2]).
-
Penjelasan tentang ayat 113 surat Al Bara’ah ([3]).
-
Masalah yang sangat penting, yaitu penjelasan tentang sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “Ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, berbeda dengan apa yang difahami oleh orang-orang yang mengaku dirinya berilmu ([4]).
-
Abu Jahal dan kawan-kawannya mengerti maksud Rasulullah ketika beliau masuk dan berkata kepada pamannya : “Ucapkanlah kalimat la ilah illallah”, oleh karena itu, celakalah orang yang pemahamannya tentang asas utama Islam ini lebih rendah dari pada Abu Jahal.
-
Kesungguhan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam berupaya untuk mengislamkan pamannya.
-
Bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Abdul Mutholib dan leluhurnya itu beragama Islam.
-
Permintaan ampun Rasulullah untuk Abu Tholib tidak dikabulkan, ia tidak diampuni, bahkan beliau dilarang memintakan ampun untuknya.
-
Bahayanya Berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berprilaku jahat.
-
Bahayanya mengagung-agungkan para leluhur dan orang-orang terkemuka.
-
“Nama besar” mereka inilah yang dijadikan oleh orang-orang jahiliyah sebagai tolok ukur kebenaran yang mesti dianut.
-
Hadits diatas mengandung bukti bahwa amal seseorang itu yang dianggap adalah di akhir hidupnya, sebab jika Abu Tholib mau mengucapkan kalimat tauhid, maka pasti akan berguna bagi dirinya di hadapan Allah.
-
Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang yang sesat itu untuk menerima tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal pikiran mereka, sebab dalam kisah diatas disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Tholib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid, padahal Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Dan karena kalimat tauhid itu memiliki makna yang jelas dan konsekuensi yang besar, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.
Catatan Kaki :
([1]) Bab ini merupakan bukti adanya kewajiban bertauhid kepada
Allah. Karena apabila Nabi Muhammad sebagai makhluk termulia dan yang paling
tinggi kedudukannya di sisi Allah, tidak dapat memberi hidayah kepada siapapun
yang beliau inginkan, maka tidak ada sembahan yang haq melainkan Allah, yang
bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
([2]) Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah (petunjuk) untuk masuk
Islam itu hanyalah di Tangan Allah saja, tidak ada seorangpun yang dapat
menjadikan seseorang menapaki jalan yang lurus ini kecuali dengan kehendakNya,
dan mengandung bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa
para nabi dan wali itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudhorat, sehingga
diminta untuk memberikan ampunan, menyelamatkan diri dari kesulitan, dan untuk
kepentingan-kepentingan lainnya.
([3]) Ayat ini menunjukkan tentang haramnya memintakan ampun
bagi orang-orang musyrik, dan haram pula berwala’ (mencintai, memihak dan
membela) kepada mereka.
([5]) Penjelasannya ialah : diyakini dalam hati, diucapkan
dengan lisan, dan diamalkan apa yang menjadi konsekuensinya, yaitu : memurnikan
ibadah hanya kepada Allah, dan membersihkan diri dari ibadah kepada selainNya,
seperti : malaikat, nabi, wali , kuburan, batu, pohon, dan lain
lain.
Selasa, 04 Agustus 2015
Syafaat
BAB 17
SYAFA’AT ([1])
Firman Allah
Subhanahu wata’ala :
]وأنذر به الذين يخافون أن يحشروا إلى ربهم ليس لهم من دونه
ولي ولا شفيع لعلهم يتقون[
“Dan berilah peringatan
dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan
dikumpulkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah
mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Allah, agar mereka
bertakwa” (QS. Al An’am, 51).
]قل لله الشفاعة جميعا[
“Katakanlah (hai Muhammad) : hanya
milik Allah lah syafaat itu semuanya” (QS. Az zumar, 44).
]من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه[
“Tiada seorang pun yang dapat
memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizinNya” (QS. Al baqarah, 225).
]وكم من ملك في السموات لا تغني شفاعتهم شيئا إلا من بعد أن
يأذن الله لمن يشاء ويرضى[
“Dan berapa banyak
malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah
Allah mengiizinkan (untuk diberi syafaat) bagi siapa saja yang dikehendaki dan
diridhoiNya” (QS. An Najm, 26).
]قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرة في
السموات ولا الأرض وما لهم فيهما من شرك وما له منهم من ظهير ولا تنفع
الشفاعة عنده إلا لمن أذن له[
“Katakanlah
:
“serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tak
memiliki kekuasaan seberat dzarrah (biji atum) pun di langit maupun di bumi,
dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan) langit dan
bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagiNya. Dan
tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah
diizinkaNya memperoleh syafaat itu …” (QS. Saba’, 22).
Abul Abbas ([2])
mengatakan : “Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum
musyrikin, selain diriNya sendiri, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorangpun
selainNya yang memiliki kekuasaan, atau bagiannya, atau menjadi pembantu
Allah.
Adapun tentang
syafa’at, maka telah ditegaskan oleh Allah bahwa syafaat ini tidak berguna
kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana
firmanNya :
]ولا يشفعون إلا لمن ارتضى[
“Dan mereka tidak dapat memberi
syafa’at, kecuali kepada orang yang diridhoi Allah” (QS. Al Anbiya’,
28).
Syafa’at yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al qur’an.
Dan diberitakan oleh
Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “bahwa beliau pada hari kiamat akan bersujud
kepada Allah dan menghaturkan segala pujian kepadaNya, beliau tidak langsung
memberi syafaat lebih dahulu, setelah itu baru dikatakan kepada beliau :
“Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan
mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafa’at niscaya
syafa’atmu akan diterima”.) HR. Bukhori dan Muslim)
Abu Hurairah
Radhiallahu’anhu bertanya kepada beliau : “siapakah orang yang paling beruntung
mendapatkan syafa’atmu ?”, Beliau menjawab : “yaitu orang yang mengucapkan La
Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya”
.) HR. Bukhori dan Ahmad)
Syafa’at yang
ditetapkan ini adalah syafaat untuk Ahlul Ikhlas Wattauhid (orang-orang yang
mentauhidkan Allah dengan ikhlas karena Allah semata) dengan seizin Allah, bukan
untuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainNya.
Dan pada hakikatnya,
bahwa hanya Allah lah yang melimpahkan karuniaNya kepada orang-orang yang ikhlas
tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka, dengan sebab doanya orang
yang telah diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan
orang tersebut dan menempatkanya di tempat yang terpuji.
Jadi syafa’at yang
ditiadakan oleh Al qur’an adalah yang didalamnya terdapat kemusyrikan. Untuk itu
Al Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayatnya bahwa syafaat itu hanya ada
dengan izin Allah. Dan Nabi pun sudah menjelaskan bahwa syafa'at itu hanya
diperuntukan untuk orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Allah
semata”.
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat-ayat diatas ([3]).
-
Syafa’at yang dinafikan adalah syafa’at yang didalamnya terdapat unsur-unsur kemusyrikan.
-
Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at untuk orang-orang yang bertauhid dengan ikhlas, dan dengan izin Allah.
-
Penjelasan tentang adanya syafa’at kubro, yaitu : Al Maqom Al Mahmud (kedudukan yang terpuji).
-
Cara yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hendak mendapatkan syafa'at, beliau tidak langsung memberi syafa'at lebih dahulu, tapi dengan bersujud kepada Allah, menghaturkan segala pujian kepadaNya, kemudian setelah diizinkan oleh Allah barulah beliau memberi syafa'at.
-
Adanya pertanyaan : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’at beliau ?”
-
Syafa’at itu tidak diberikan kepada orang yang mensekutukan Allah.
-
Penjelasan tentang hakikat syafa’at yang sebenarnya.
Catatan Kaki :
([1]) Syafaat telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam
memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka : “Kami tidak memohon kepada
mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan syafa'at
kepada kami di sisiNya”, maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafa'at yang mereka
harapkan itu adalah percuma, bahkan syirik, dan syafa'at hanyalah hak Allah
semata, tiada yang dapat memberi syafa'at kecuali dengan seizinNya bagi siapa
yang mendapat ridhaNya.
([2]) Taqiyuddin Abul Abbas ibnu Taimiyah : Ahmad bin Abdul
Halim bin Abdus Salam bin Abdullah An Numairi Al Harrani Ad Dimasqi. Syaikhul
Islam, dan tokoh yang gigih sekali dalam gerakan dakwah Islamiyah. Dilahirkan di
Harran, tahun 661 H (1263 M) dan meninggal di Damaskus tahun 728 H
(1328).
([3]) Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafa'at seluruhnya
adalah hak khusus bagi Allah.
Ayat ketiga menunjukkan bahwa
syafa'at itu tidak diberikan kepada seseorang, tanpa adanya izin ddari
Allah.
Ayat keempat menunjukkan bahwa syafa'at itu diberikan oleh
orang yang diridhoi Allah dengan izin dariNya. Dengan demikian syafa'at itu
adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dariNya, dan menunjukkan
pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri
kepada malaikat, nabi atau orang-orang sholeh, untuk meminta syafaat
mereka.
Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin
yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk-makhluk
lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu bisa mendatangkan manfaat
dan menolak mudhorat, dan menunjukkan bahwa syafa'at tidak berguna bagi mereka,
karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang
mengamalkan tauhid, dan itupun dengan izin Allah.
Sifat-sifat Para Malaikat
BAB 16
MALAIKAT MAKHLUK YANG PERKASA
BERSUJUD KEPADA ALLAH ([1]).
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو
العلي الكبير[
“Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka (malaikat),
mereka berkata : apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?, mereka menjawab :
perkataan yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar” (QS. Saba’,
23).
Diriwayatkan dalam kitab
shohehnya Imam Bukhori, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إذا قضى
الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانا لقوله، كأنه سلسلة على صفوان
ينفذهم ذلك، ]حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو
العلي الكبير[، فيسمعها مسترق السمع، ومسترق السمع هكذا بعضه فوق بعض –
وصفه سفيان بكفه، فحرفها وبدد بين أصابعه – فيسمع الكلمة فيلقيها إلى من تحته، ثم
يلقيها الآخر إلى من تحته، حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن، فربما أدركه
الشهاب قبل أن يلقيها، وربما ألقاها قبل أن يدركه، فيكذب معها مائة كذبة، فيقال :
أليس قد قال لنا يوم كذا وكذا ؟ فيصدق بتلك الكلمة التي سمعت من
السماء".
“Apabila Allah
menetapkan suatu perintah diatas langit, para malaikat mengibas-ngibaskan
sayapnya, karena patuh akan firmanNya, seolah-olah firman yang didengarnya itu
bagaikan gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal ini
memekakkan mereka (sehingga jatuh pingsan karena ketakutan), “sehingga apabila
telah dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka berkata : “apakah
yang telah difirmankan oleh tuhanmu ?” mereka menjawab : “ (perkataan) yang
benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar”, ketika itulah
(syetan-syetan) pencuri berita mendengarnya, pencuri berita itu sebagian diatas
sebagian yang lain - Sufyan bin Uyainah ([2])
menggambarkan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari
jemarinya - ketika mereka (penyadap berita) mendengar berita itu, disampaikanlah
kepada yang ada dibawahnya, dan seterusnya, sampai ke tukang sihir dan tukang
ramal, tapi kadang-kadang syetan pencuri berita itu terkena syihab (meteor)
sebelum sempat menyampaikan berita itu, dan kadang-kadang sudah sempat
menyampaikan berita sebelum terkena syihab, kemudian dengan satu kalimat yang
didengarnya itulah tukang sihir dan tukang ramal itu melakukan seratus macam
kebohongan, mereka mendatangi tukang sihir dan tukang ramal seraya berkata :
bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan
itu terjadi benar), sehingga ia dipercayai dengan sebab kalimat yang didengarnya
dari langit”.
An–Nawwas bin Sam’an
Radhiallahu’anhu menuturkan bahwa Rasulullah, bersabda :
" إذا أراد
الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة، أو قال : رعدة شديدة
خوفا من الله U، فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا وخروا سجدا، فيكون أول
من يرفع رأسه جبريل ، فيكلمه الله من وحيه بما أراد، ثم يمر جبريل على الملائكة،
كلما مر بسماء سأله ملائكتها : ماذا قال ربنا يا جبريل ؟، فيقول جبريل : قال الحق
وهو العلي الكبير، فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل، فينتهى جبريل بالوحي إلى حيث
أمره الله".
“Apabila Allah Subhanahu
wata’ala hendak mewahyukan perintahnya, maka Dia firmankan wahyu tersebut, dan
langit-langit bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah, dan ketika
para malaikat mendengar firman tersebut mereka pingsan dan bersujud, dan
diantara mereka yang pertama kali bangun adalah Jibril, maka Allah sampaikan
wahyu yang Ia kehendakiNya kepadanya, kemudian Jibril melewati para malaikat,
setiap ia melewati langit maka para penghuninya bertanya kepadanya : “apa yang
telah Allah firmankan kepadamu ?”, Jibril menjawab : “Dia firmankan yang benar,
dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, dan seluruh malaikat yang ia lewati
bertanya kepadanya seperti pertanyaan pertama, demikianlah sehingga Jibril
menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah
Subhanahu wata’ala kepadanya.”
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang ayat yang telah disebutkan di atas ([3]).
-
Ayat tersebut mengandung argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang sholeh, dan ayat itu juga memutuskan akar-akar pohon syirik yang ada dalam hati seseorang.
-
Penjelasan tentang firman Allah : “mereka menjawab : “(perkataan) yang benar” dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ([4])”
-
Menerangkan tentang sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.
-
Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan perkataan : “Dia firmankan yang benar …”
-
Menyebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.
-
Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh malaikat penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.
-
Para malaikat penghuni langit jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah.
-
Langitpun bergetar keras ketika mendengar firman Allah itu.
-
Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu itu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
-
Hadits di atas menyebutkan tentang adanya syetan-syetan yang mencuri berita wahyu.
-
Cara mereka mencuri berita, sebagian mereka naik di atas sebagian yang lain.
-
Peluncuran syihab (meteor) untuk menembak jatuh syetan-syetan pencuri berita.
-
Adakalanya syetan pencuri berita itu terkena syihab sebelum sempat menyampaikan berita yang didengarnya, dan adakalanya sudah sempat menyampaikan berita ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.
-
Adakalanya ramalan tukang ramal itu benar.
-
Dengan berita yang diterimanya ia melakukan seratus macam kebohongan.
-
Kebohongannya tidak akan dipercaya kecuali karena adanya berita dari langit (melalui syetan penyadap berita).
-
Kecenderungan manusia untuk menerima suatu kebatilan, bagaimana mereka bisa bersandar hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan oleh tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.
-
Satu kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya, lalu dijadikan sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan oleh tukang ramal itu benar.
-
Menetapkan sifat-sifat Allah (seperti yang terkandung dalam hadits diatas), berbeda dengan faham Asy’ariyah yang mengingkarinya.
-
Penjelasan bahwa bergetarnya langit dan pingsanya para malaikat itu disebabkan karena rasa takut mereka kepada Allah.
-
Para malaikat pun bersimpuh sujud kepada Allah.
Catatan Kaki :
([1]) Bab ini menjelaskan bukti lain
yang menunjukkan kebhatilan syirik dan hanya Allah yang berhak dengan segala
macam ibadah. Karena apabila para malaikat, sebagai makhluk yang sangat perkasa
dan paling kuat, bersimpuh sujud di hadapan Allah yang Maha tinggi dan Maha
besar ketika mendengar firmanNya, maka tidak ada yang berhak dengan ibadah, puja
dan puji, sanjungan dan pengagungan kecuali Allah.
([2]) Sufyan bin Uyainah bin Maimun Al Hilali, salah seorang periwayat
hadits ini.
([3]) Ayat ini menerangkan keadaan
para malaikat, yang mana mereka adalah makhluk Allah yang paling kuat dan amat
perkasa yang disembah oleh orang-orang musyrik. Apabila demikian keadaan meraka
dan rasa takut mereka kepada Allah ketika Allah berfirman, maka apakah pantas
mereka dijadikan sesembahan selain Allah ? tentu tidak pantas, dan makhluk
selain mereka lebih tidak pantas lagi.
([4]) Firman Allah ini menunjukkan :
bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan), karena mereka berkata : “ Apakah
yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?”, menunjukkan pula bahwa Allah Maha
Tinggi di atas seluruh makhlukNya, dan Maha Besar yang kebesaranNya tidak dapat
dijangkau oleh pikiran mereka.
Berdoa kepada selain Alloh adalah Syirik
BAB 14
BERDO’A KEPADA SELAIN ALLAH ADALAH
SYIRIK.
Firman Allah Subhanahu wata’ala
:
]ولا تدع من دون الله ما لا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك
إذا من الظالمين[
“Dan janganlah kamu
memohon/berdo’a kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan
tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat hal itu maka
sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang dzolim (musyrik)”
(QS. Yunus, 106).
]وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا
راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم[
“Dan jika Allah menimpakan
kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak
kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di
antara hamba hambaNya dan Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang”(QS.
Yunus, 107).
]إن الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقا فابتغوا
عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له إليه ترجعون[
“Sesungguhnya mereka yang kamu
sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu, maka mintalah
rizki itu pada Allah dan sembahlah Dia (saja) serta bersyurkurlah kepadaNya.
Hanya kepada Nya lah kamu sekalian dikembalikan.” (QS. Al Ankabut,
17).
]ومن أضل ممن يدعو من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم
القيامة وهم عن دعائهم غافلون وإذا حشر الناس كانوا لهم أعداء وكانوا بعبادتهم
كافرون[
“Dan tiada yang lebih sesat dari
pada orang yang memohon kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada
dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat dan sembahan-sembahan itu
lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan
(pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan mereka.” (QS. Al Ankabut, 5-6).
]أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء ويجعلهم خلفاء الأرض
أإله مع الله قليلا ما تذكرون[
“Atau siapakah yang mengabulkan
(do’a) orang-orang yang dalam kesulitan disaat ia berdo’a kepadaNya, dan yang
menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu sekalian menjadi kholifah di
bumi ? adakah sesembahan (yang haq) selain Allah ? amat sedikitlah kamu
mengingat(Nya).” (QS. An Naml, 62).
Imam At-Thabrani dengan
menyebutkan sanadnya meriwayatkan bahwa : “Pernah ada pada zaman Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam seorang munafik yang selalu menyakiti orang-orang
mu’min, maka salah seorang di antara orang mu’min berkata : “Marilah kita
bersama-sama memohon perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini”, ketika itu Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam menjawab
"إنه لا يستغاث بي وإنما يستعاث
بالله"
“Sesungguhnya aku tidak boleh
dimintai perlindungan, hanya Allah sajalah yang boleh dimintai
perlindungan”.
Kandungan bab ini
:
-
Istighotsah itu pengertiannya lebih khusus dari pada berdo’a([1]).
-
Penjelasan tentang ayat yang pertama ([2]).
-
Meminta perlindungan kepada selain Allah adalah syirik besar.
-
Orang yang paling sholeh sekalipun jika melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka ia termasuk golongan orang-orang yang dzolim (musyrik).
-
Penjelasan tentang ayat yang kedua ([3]).
-
Meminta perlindungan kepada selain Allah tidak dapat mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu termasuk perbuatan kafir.
-
Penjelasan tentang ayat yang ketiga ([4]).
-
Meminta rizki itu hanya kepada Allah, sebagaimana meminta surga.
-
Penjelasan tentang ayat yang ke empat ([5]).
-
Tidak ada orang yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
-
Sesembahan selain Allah tidak merasa dan tidak tahu kalau ada orang yang memohon kepadanya.
-
Sesembahan selain Allah akan benci dan marah kepada orang yang memohon kepadanya pada hari kiamat.
-
Permohonan ini dianggap ibadah kepada sesembahan selain Allah.
-
Pada hari kiamat sesembahan selain Allah itu akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
-
Permohonan kepada selain Allah inilah yang menyebabkan seseorang menjadi orang yang paling sesat.
-
Penjelasan tentang ayat yang ke lima ([6]).
-
Satu hal yang sangat mengherankan adalah adanya pengakuan dari para penyembah berhala bahwa tidak ada yang dapat mengabulkan permohonan orang yang berada dalam kesulitan kecuali Allah, untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepadaNya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untukNya.
-
Hadits di atas menunjukan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk melindungi ketauhidan, dan etika sopan santun beliau kepada Allah.
Catatan Kaki :
([1]) Istighotsah ialah : meminta pertolongan ketika
dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.
([2]) Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada
selain Allah, karena selainNya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula
dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.
([3]) Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah lah yang berhak dengan
segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti doa, istighotsah dan sebagainya.
Karena hanya Allah yang Maha Kuasa, jika Dia menimpakan sesuatu bahaya kepada
seseorang, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri, dan
jika Dia menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat
menolak karuniaNya. Tidak ada seorangpun yang menghalangi
kehendakNya.
([4]) Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak
dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepadaNya seharusnya kita meminta
rizki, karena selain Allah tidak mampu memberikan rizki.
([5]) Ayat keempat menunjukkan bahwa doa (permohonan) adalah
ibadah. Karena itu, barang siapa yang menyelewengkannya kepada selain Allah,
maka dia adalah musyrik.
([6]) Ayat kelima menunjukkan bahwa istighotsah (mohon
pertolonan) kepada selain Allah, karena tidak ada yang kuasa kecuali Dia –
adalah bathil dan termasuk syirik.
Berlindung kepada selain Alloh
BAB 13
MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA SELAIN
ALLAH ADALAH SYIRIK
Firman Allah Subhanahu wata’ala
:
]وأنه كان رجال من الإنس يعوذون برجال من الجن فزادوهم
رهقا[
“Bahwa ada beberapa orang
laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari
jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan” (QS. Al jin,
6).
Khaulah binti Hakim menuturkan :
aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من نزل منـزلا فقال : أعوذ بكلمات الله
التامات من شر ما خلق، لم يضره شيء حتى يرحل من منـزله ذلك ". رواه مسلم
“Barang siapa yang singgah di
suatu tempat, lalu ia berdo’a :
أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما
خلق
(aku berlindung dengan kalam Allah
yang maha sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) maka tidak ada
sesuatupun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu”
(HR. Muslim).
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang maksud ayat yang ada dalam surat Al Jin ([1]).
-
Meminta perlindungan kepada selain Allah (jin) adalah syirik.
-
Hadits tersebut di atas, sebagaimana disimpulkan oleh para ulama, merupakan dalil bahwa kalam Allah itu bukan makhluk, karena minta perlindungan kepada makhluk itu syirik.
-
Keutamaan doa ini walaupun sangat singkat.
-
Sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia, baik dengan menolak kejahatan atau mendatangkan keberuntungan tidak berarti sesuatu itu tidak termasuk syirik.
Catatan Kaki :
([1]) Dalam ayat ini Allah
memberitahukan bahwa ada di antara manusia yang meminta perlindungan kepada jin
agar merasa aman dari apa yang mereka khawatirkan, akan tetapi jin itu justru
menambah dosa dan rasa khawatir bagi mereka, karena mereka tidak meminta
perlindungan kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa
isti’adzah (meminta perlindungan( kepada selain Allah adalah termasuk syirik
dan terlarang.


