Tampilkan postingan dengan label Syirik Akbar. Tampilkan semua postingan
Apa itu Tathoyyur
BAB
28
TATHOYYUR
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]ألا إنما طائرهم عند الله ولكن أكثرهم لا
يعلمون[
“Ketahuilah,
sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka
tidak mengetahui” (QS. Al A’raf, 131).
]قالوا طائرهم معكم أئن ذكرتم بل أنتم قوم
مسرفون[
“Mereka (para
Rasul) berkata : “kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri, apakah jika
kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial)? sebenarnya kamu adalah kaum yang
melampaui batas.” (QS. Yasin, 19).
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"لا عدو ولا طيرة ولا هامة ولا صفر "
أخرجاه, وزاد مسلم " ولا نوء ولا غول".
“Tidak ada
‘Adwa, Thiyarah, Hamah, Shofar” (HR. Bukhori dan
Muslim), dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan : “ dan tidak ada
Nau’, serta ghaul.” ([1]).
Imam Bukhori dan Muslim
meriwayatkan pula dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda :
"لا عدو ولا طيرة ويعجبني الفأل"، قالوا :
وما الفأل ؟ قال : " الكلمة الطيبة".
“Tidak ada ‘Adwa dan
tidak ada Thiyarah, tetapi Fa’l menyenangkan diriku”, para sahabat bertanya :
“apakah Fa’l itu ?” beliau menjawab : “yaitu kalimah thoyyibah (kata kata yang
baik)”.
Abu Daud meriwayatkan
dengan sanad yang shoheh, dari Uqbah bin Amir, ia berkata : “Thiyarah
disebut-sebut dihadapan Rasulullah, maka beliaupun bersabda :
"أحسنها الفأل، ولا ترد مسلما، فإذا رأى
أحدكم ما يكره فليقل : اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت، ولا يدفع السيئات إلا أنت،
ولا حول ولا قوة إلى بك".
“Yang paling baik adalah
Fa’l, dan Thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari
niatnya, apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak
diinginkannya, maka hendaknya ia berdo’a : “Ya Allah, tiada yang dapat
mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang dapat menolak kejahatan
kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali atas
pertolonganMu”.
Abu Daud meriwayatkan
hadits yang marfu’ dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
"الطيرة شرك، الطيرة شرك، وما منا إلا
...، ولكن الله يذهبه بالتوكل " رواه أبو داود والترمذي وصححه وجعل آخره من قول ابن
مسعود.
“Thiyarah itu perbuatan
syirik, thiyarah itu perbuatan syirik, tidak ada seorangpun dari antara kita
kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah
Subhanahu wata’ala bisa menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya”.(HR.Abu
Daud). Hadits ini diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi dan dinyatakan shoheh, dan
kalimat terakhir ia jadikan sebagai ucapannya Ibnu Mas’ud)
Imam Ahmad meriwayatkan
hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"من ردته الطيرة عن حاجته فقد أشرك "،
قالوا : فما كفارة ذلك ؟ قال : أن تقول : اللهم لا خير إلا خيرك، ولا طير إلا طيرك،
ولا إله إلا غيرك".
“Barang siapa yang
mengurungkan hajatnya karena thiyarah ini, maka ia telah berbuat kemusyrikan”,
para sahabat bertanya : “lalu apa yang bisa menebusnya ?”, Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :” hendaknya ia berdoa : “Ya Allah, tiada
kebaikan kecuali kebaikan dariMu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dariMu,
dan tiada sesembahan kecuali Engkau”.
Dan dalam riwayat yang
lain dari Fadl bin Abbas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"إنما الطيرة ما أمضاك أو
ردك"
“Sesugguhnya Thiyarah
itu adalah yang bisa menjadikan kamu terus melangkah, atau yang bisa
mengurungkan niat (dari tujuan kamu)”.
Kandungan bab ini
:
-
Penjelasan tentang kedua ayat tersebut di atas, surat Al A’raf 131, dan Yasin 19.
-
Pernyataan bahwa tidak ada ‘Adwa..
-
Pernyataan bahwa tidak ada thiyarah.
-
Pernyataan bahwa tidak ada hamah.
-
Pernyataan bahwa tidak ada shofar.
-
Al Fa’l tidak termasuk yang dilarang oleh Rasulullah, bahkan dianjurkan.
-
Penjelasan tentang makna Al Fa’l.
-
Apabila terjadi tathoyyur dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa baginya, bahkan Allah Subhanahu wata’ala akan menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.
-
Penjelasan tentang doa yang dibacanya, saat seseorang menjumpai hal tersebut.
-
Ditegaskan bahwa thiyarah itu termasuk syirik.
-
Penjelasan tentang thiyarah yang tercela dan terlarang.
Catatan Kaki :
([1]) Adwa : penjangkitan
atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi di sini ialah untuk menolak anggapan
mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah, bahwa penyakit berjangkit atau
menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah. Anggapan inilah yang
ditolak oleh Rasulullah, bukan keberadaan penjangkitan atau penularan, sebab
dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan :
(وفروا من
المجذوم كما تفروا من الأسد)
“… dan menjauhlah dari orang
yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR.
Bukhori).
Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit
dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi,
namun sebagai insan muslim di samping iman kepada takdir tersebut haruslah
berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana
usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir
Ilahi.
Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib
buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.
Hamah : burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa
bernasib sial dengan melihatnya, apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah
salah seorang diantara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita
kematian tentang dirinya sendiri, atau salah satu anggota keluarganya. Dan
maksud beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi
seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah
dan sudah ditentukan olehNya.
Shafar : bulan kedua dalam tahun hijriyah, yaitu
bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini
membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada
oleh Rasulullah. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini : merasa bahwa hari
rabu mendatangkan sial, dan lain lain. Hal ini termasuk jenis thiyarah,
dilarang dalam Islam.
Nau’ : bintang, arti asalnya adalah : tenggelam atau
terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan kepada
bintang ini, atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini,
bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu
adalah ketentuan dari Allah.
Ghaul : hantu (gendruwo), salah satu makhluk
jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun
warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda
Nabi di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi
menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada
selain Allah, serta tidak bertawakkal kepadaNya, inilah yang ditolak oleh
beliau, untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda : “Apabila hantu beraksi
manakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan.” Artinya : tolaklah kejahatannya itu
dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dalam Al Musnad.
Selasa, 04 Agustus 2015
Dukun, Tukang Ramal dan Sejenisnya
BAB
26
Diriwayatkan oleh Imam
Muslim dalam kitab shohehnya, dari salah seorang istri Nabi, bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من أتى عرافا فسأله عن شيء فصدقه لم تقبل
له صلاة أربعين يوما"
“Barang siapa yang
mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia
mempercayainya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”.
Abu Dawud meriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما
أنزل على محمد ". رواه أبو داود.
“Barang siapa yang
mendatangi seorang dukun, dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka
sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan
kepada Muhammad” (HR. Abu Daud).
Dan diriwayatkan oleh
empat periwayat[1] dan Al Hakim dengan menyatakan :
“Hadits ini shahih menurut kriteria Imam Bukhori dan Muslim” dari Abu Hurairah
Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول
فقد كفر بما أنزل على محمد"
“Barang siapa yang
mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka
sesunggunya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada
Muhammad”.
Abu Ya’la pun
meriwayatkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud seperti yang tersebut di atas,
dengan sanad Jayyid.
Al Bazzar dengan sanad
Jayyid meriwayatkan hadits marfu’ dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"ليس منا من تطير أو تطير له، أو تكهن أو
تكهن له، أو سحر أو سحر له، ومن أتى كاهنا فصدقه فقد كفر بما أنزل على محمد " رواه
البزار بإسناد جيد.
“Tidak termasuk golongan
kami orang yang meminta dan melakukan Tathoyyur, meramal atau minta diramal,
menyihir atau minta disihirkan, dan barang siapa yang mendatangi dukun lalu
mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap
wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad.
Hadits ini diriwayatkan
pula oleh At Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas
tanpa menyebutkan kalimat : “dan barang siapa mendatangi …”dst.
Imam Al Baghowi
([2]) berkata : “Al Arraf (peramal)
adalah orang yang mendakwahkan dirinya mengetahui banyak hal dengan menggunakan
isyarat-isyarat yang dipergunakan untuk mengetahui barang curian atau tempat
barang yang hilang dan semacamnya. Ada pula yang mengatakan : ia adalah Al Kahin
(dukun) yaitu : orang yang bisa memberitahukan tentang hal-hal yang ghoib yang
akan terjadi dimasa yang akan datang. Dan ada pula yang mengatakan : ia adalah
orang yang bisa memberitahukan tentang apa-apa yang ada dihati
seseorang”.
Menurut Abul Abbas Ibnu
Taimiyah : “Al Arraf adalah sebutan untuk dukun, ahli nujum, peramal nasib dan
sejenisnya yang mendakwahkan dirinya bisa mengetahui hal hal ghaib dengan
cara-cara tersebut.”
Ibnu Abbas berkata
tentang orang-orang yang menulis huruf huruf أبا جا د sambil mencari rahasia huruf, dan
memperhatikan bintang-bintang : “Aku tidak tahu apakah orang yang melakukan hal
itu akan memperoleh bagian keuntungan di sisi Allah”.
Kandungan bab ini
:
-
Tidak dapat bertemu dalam diri seorang mukmin antara iman kepada Al Qur’an dengan percaya kepada tukang ramal, dukun dan sejenisnya.
-
Pernyataan Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bahwa mempercayai ucapan dukun adalah kufur.
-
Ancaman bagi orang yang minta diramalkan.
-
Ancaman bagi orang yang minta di tathoyyur.
-
Ancaman bagi orang yang minta disihirkan.
-
Ancaman bagi orang yang menulis huruf huruf أباجاد [untuk mencari pelamat rahasia].
-
Perbedaan antara Kahin dan Arraf, bahwa kahin (dukun) ialah orang yang memberitahukan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang yang diperoleh dari syetan penyadap berita di langit.
Catatan Kaki :
([1]) Yakni : Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai’ dan Ibnu
Majah.
([2]) Abu Muhammad Al Husain bin
Mas’ud bin Muhammad Al Farra’, atau Ibn Farra’ Al- Baghawi. Diberi gelar Muhyi
Sunnah. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain : syarh as sunnah, al jami’
baina ash shahihain. Lahir tahun 436 H (1044 M), dan meninggal tahun 510 H (1117
M).
Penyembah Berhala
BAB
23
PENJELASAN
BAHWA SEBAGIAN UMAT INI ADA
YANG
MENYEMBAH BERHALA
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت
والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين آمنوا سبيلا[
“Tidakkah kamu
memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab ?, mereka beriman
kepada Jibt dan Thoghut
([1]), dan mengatakan kepada
orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari
orang-orang yang beriman.” (QS. An nisa’, 51 ).
]قل هل أنبئكم بشر من ذلك مثوبة عند الله، من لعنه الله
وغضب عليه، وجعل منهم القردة والخنازير وعبد الطاغوت[.
“Katakanlah :” maukah
aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari
pada (orang-orang fasik) itu dihadapan Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati
dan dimurkai, dan diantara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan
orang-orang yang menyembah Thoghut” (QS. Al maidah, 60).
]قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم
مسجدا[
“…Orang-orang yang
berkuasa atas urusan mereka berkata: “sungguh kami
akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas gua mereka”.” (QS. Al kahfi,
21).
Dari Abu
Saidt, Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
"لتتبعن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة،
حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه"، قالوا : يا رسول الله، اليهود والنصارى ؟ قال :"
فمن ؟ " أخرجه البخاري ومسلم.
“Sungguh kalian akan
mengikuti (meniru) tradisi umat-umat sebelum kalian selangkah demi selangkah
sampai kalaupun mereka masuk kedalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke
dalamnya pula.”, para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, orang-orang yahudi dan
Nasranikah ?”, beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab : “siapa lagi ?” (HR.
Buhkhori dan Muslim).
Imam Muslim meriwayatkan
dari Tsauban, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إن الله زوى لي الأرض، فرأيت مشارقها
ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها، وأعطيت كنـزين : الأحمر والأبيض،
وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة بعامة، وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى
أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإن ربي قال : يا محمد إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يرد،
وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا أسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم
فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم من بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك بعضا، ويسبي
بعضهم بعضا".
“Sungguh Allah telah
membentangkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan barat,
dan sungguh kekuasaan umatku akan sampai pada belahan bumi yang telah
dibentangkan kepadaku itu, dan aku diberi dua simpanan yang berharga, merah dan
putih (imperium Persia dan Romawi), dan aku minta kepada Rabbku untuk umatku
agar jangan dibinasakan dengan sebab kelaparan (paceklik) yang berkepanjangan,
dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga
musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka.
Lalu Rabb berfirman :
“Hai Muhammad, jika aku telah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan itu tak
akan bisa berubah, dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu
untuk tidak dibinasakan dengan sebab paceklik yang berkepanjangan, dan tidak
akan dikuasai oleh musuh selain dari kaum mereka sendiri, maka musuh itu tidak
akan bisa merampas seluruh negeri mereka, meskipun manusia yang ada di jagat
raya ini berkumpul menghadapi mereka, sampai umatmu itu sendiri sebagian
menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian meraka menawan sebagian yang
lain.”
Hadits ini diriwayatkan
pula oleh Al barqoni dalam sholehnya dengan tambahan :
"وإني أخاف على أمتى الأئمة المضلين، وإذا
وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة، ولا تقوم الساعة حتى يلحق حي من أمتى
بالمشركين، وحتى تعبد فئام من أمتى الأوثان، وإنه سيكون في أمتى كذابون ثلاثون،
كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين، لا نبي بعدي، ولا تزال طائفة من أمتى على
الحق منصورة، لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم، حتى يأتي أمر الله تبارك
وتعالى".
“Dan yang aku
khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah adanya pemimpin yang menyesatkan,
dan ketika terjadi pertumpahan darah diantara mereka, maka tidak akan berakhir
sampai datangnya hari kiamat, dan hari kiamat tidak akan kunjung tiba kecuali
ada diantara umatku yang mengikuti orang musyrik, dan sebagian lain yang
menyembah berhala, dan sungguh akan ada pada umatku 30 orang pendusta, yang
mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lain
setelah aku, meskipun demikian akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap
tegak membela kebenaran, dan mereka selalu mendapat pertolongan Allah ta'ala,
mereka tak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dan memusuhi
mereka, sampai datang keputusan Allah”.
Kandungan dalam bab
ini :
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’([2]).
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Maidah ([3]).
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Kahfi ([4]).
-
Masalah yang sangat penting sekali, yaitu pengertian tentang beriman terhadap Jibt dan thoghut, apakah sekedar mempercayainya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang-barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya ?.
-
[sebagai buktinya], apa yang dikatakan oleh Ahli kitab kepada orang-orang kafir (kaum Musyrikin Makkah) bahwa mereka lebih benar jalannya dari pada orang-orang yang beriman.
-
Iman kepada Jibt dan Thoghut pasti akan terjadi di kalangan umat ini (umat Islam), sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits Abu Said. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.
-
Pernyataan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahwa akan terjadi penyembahan berhala dari kalangan umat ini.
-
Satu hal yang amat mengherankan adalah menculnya orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi, seperti Al Mukhtar bin Abu Ubaid Ats tsaqafi ([5]); padahal ia mengucapkan dua kalimah syahadat, dan menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat Muhammad, dan ia meyakini bahwa Rasulullah itu haq dan Al Qur’an juga haq, yang didalamnya diterangkan bahwa Muhammad adalah penutup para Nabi. Walaupun demikian ia dipercayai banyak orang, meskipun adanya kontradiksi yang jelas sekali. Ia hidup pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kabar gembira bahwa al haq (kebenaran Allah dan ajaranNya) tidak akan dapat dilenyapkan sama sekali, sebagaimana yang terjadi pada masa lalu, tetapi masih akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang teguh dan membela kebenaran.
-
Bukti kongkritnya adalah : mereka walaupun sedikit jumlahnya, tetapi tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan dan menentang mereka.
-
Kondisi seperti ini akan berlangsung sampai hari kiamat.
-
Bukti bukti akan kenabian Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang terkandung dalam hadits ini adalah :
Pemberitahuan beliau bahwa Allah telah membentangkan kepadanya belahan bumi sebelah barat dan timur, dan menjelaskan makna dari hal itu, kemudian terjadi seperti yang beliau beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara. Pemberitahuan beliau bahwa beliau diberi dua simpanan yang berharga. Pemberitahuan beliau bahwa do’anya untuk umatnya dikabulkan dalam dua hal, sedangkan hal yang ketiga tidak dikabulkan. Pemberitahuan beliau bahwa akan terjadi pertumpahan darah diantara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari kiamat. Pemberitahuan beliau bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain. Pemberitahuan beliau tentang munculnya orang-orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi pada umat ini. Pemberitahuan beliau bahwa akan akan tetap ada sekelompok orang dari umat ini yang tegak membela kebenaran, dan mendapat pertolongan Allah.
Dan itu semua benar benar telah
terjadi seperti yang telah diberitahukan, padahal semua yang diberitahukan itu
diluar jangkauan akal manusia.
-
Apa yang beliau khawatirkan terhadap umatnya hanyalah munculnya para pemimpin yang menyesatkan.
-
Perlunya perhatian terhadap makna dari penyembahan berhala.
([1]) Terdapat bebarapa penafsiran
dari kalangan salaf, tentang makna Jibt, antara lain : berhala, sihir, tukang
sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthob dan Ka’ab bin Al Asyraf ( kedua orang ini
adalah tokoh orang orang yahudi di zaman Rasulullah). Dengan demikian,
pengertian umum mencakup makna ini semua, sebagaimana yang dikatakan oleh Al
Jauhari dalam Ash Shihah : “ Jibt adalah kata kata yang dapat digunakan untuk
berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya ..”
Demikian halnya dengan kata kata thoghut, terdapat
beberapa penafsiran, yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain : syetan,
syetan dalam wujud manusia, behala, tukang ramal, Ka’ab Al Asyraf.
Ibnu Jarir Ath Thobari, dalam menafsirkan ayat ini,
setelah menyebutkan beberapa penafsiran ulama salaf, mengatakan : “ … Jibt dan
thoghut ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain
Allah, atau ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu batu, manuisa
ataupun syetan.
([2]) Ayat ini menunjukkan bahwa
apabila orang-orang yang diturunkan kepada mereka Al Kitab mau beriman kepada
Jibt dan Thoghut, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini
yang telah diturunkan kepadanya Al Qur’an akan berbuat pula seperti yang mereka
perbuat, karena Rasulullah telah memberitahukan bahwasanya akan ada di diantara
umat ini orang-orang yang berbuat seperti apa yang diperbuat oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani.
([3]) Ayat ini menunjukkan bahwa
akan terjadi di kalangan umat ini penyembahan thaghut, sebagaimana telah terjadi
penyembahan thaghut di kalangan ahli kitab.
([4]) Ayat ini menunjukkan bahwa ada
di antara umat ini orang yang membangun tempat ibadah di atas atau di sekitar
kuburan, sebagaimana telah dilakukan oleh orang orang sebelum
mereka.
([5]) Al Mukhtar bin Abu Ubaid bin
Mas’ud Ats Tsaqafi. Termasuk tokoh yang memberontak terhadap kekuasaan Bani
Umayyah dan menonjolkan kecintaan kepada Ahlu bait. Mengaku bahwa ia adalah nabi
dan menerima wahyu. Di bunuh oleh Mush’ab bin Az Zubair pada tahun 67 H. ( 687 M
).
Ghuluw terhadap kuburan orang shaleh
BAB
21
BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP KUBURAN
ORANG-ORANG SHOLEH MENJADI
PENYEBAB
DIJADIKANNYA SESEMBAHAN SELAIN ALLAH
Imam Malik meriwayatkan
dalam kitabnya Al Muwatto’, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد، اشتد غضب
الله على قوم اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد"
“Ya Allah, janganlah
Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka
kepada orang-orang yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat
ibadah”.
Diriwayatkan oleh Ibnu
Jarir, dengan sanadnya dari sufyan dari Mansur dari Mujahid, berkaitan dengan
ayat : [أفرأيتم اللات والعزى] “Jelaskan kepadaku (wahai kaum
musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah) Al
lata dan Al Uzza” (QS. An Najm, 19)
Ia (Mujahid) berkata :
“Al latta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung (dengan air atau
minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. setelah meninggal, merekapun
senantiasa mendatangi kuburannya.”
Demikian pula
penafsiran Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul
Jauza’ : “ Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jamaah
haji.”
Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas Radhiallahu’anhu , ia berkata :
"لعن رسول الله زائرات القبور والمتخذين
عليها المساجد والسرج" رواه أهل السنن.
“Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan, serta
orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi lampu penerang di atas
kuburannya.”(HR. para penulis kitab Sunan)
Kandungan dalam bab ini
:
-
Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan berhala ([1]).
-
Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ibadah ([2]).
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan doanya itu, tiada lain hanyalah memohon kepada Allah supaya dihindarkan dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi (pada umatnya), sebagaimana yang telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, yaitu : sikap berlebih-lebihan terhadap kuburan beliau, yang akhirnya kuburan beliau akan menjadi berhala yang disembah.
-
Dalam doanya, beliau sertakan pula apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan menjadikan kuburan para Nabinya sebagai tempat beribadah.
-
Penjelasan bahwa Allah sangat murka (terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah).
-
Di antara masalah yang sangat penting untuk dijelaskan dalam bab ini adalah mengetahui sejarah penyembahan Al latta berhala terbesar orang-orang jahiliyah.
-
Mengetahui bahwa berhala itu asal usulnya adalah kuburan orang sholeh (yang diperlakukan secara berlebihan dengan senantiasa dikunjungi oleh mereka).
-
Al latta nama orang yang dikuburkan itu, pada mulanya adalah seorang pengaduk tepung untuk disajikan kepada para jamaah haji.
-
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat para wanita penziarah kubur.
-
Beliau juga melaknat orang-orang yang memberikan lampu penerang di atas kuburan.
Catatan Kaki :
Larangan bersifat Ghulluw (berlebihan)
BAB
19
PENYEBAB
UTAMA KEKAFIRAN ADALAH BERLEBIH-LEBIHAN
DALAM
MENGAGUNGKAN ORANG-ORANG SHOLEH
Firman Allah Subhanahu
wata’ala :
]يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا
الحق[
“Wahai orang-orang ahli kitab,
janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian
mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An nisa’, 171).
Dalam shoheh Bukhori
ada satu riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang menjelaskan tentang
firman Allah Subhanahu wata’ala :
]وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث
ويعوق ونسرا[
“Dan mereka (kaum Nabi
Nuh) berkata : janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan
kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’,
Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr” (QS. Nuh, 23)
Beliau (Ibnu Abbas)
mengatakan : “Ini adalah nama orang-orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, ketika
mereka meniggal dunia, syetan membisikan kepada kaum mereka agar membikin
patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana disitu pernah
diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama
patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima
bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan
sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama
dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut mulai disembah”.
Ibnul Qoyyim berkata
([1]): “banyak para ulama salaf
mengatakan : “setelah mereka itu meninggal, banyak orang-orang yang
berbondong-bondong mendatangi kuburan mereka, lalu mereka membikin patung-patung
mereka, kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama ahirnya patung-patung
tersebut dijadikan sesembahan”.
Diriwayatkan dari Umar
Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda
:
"لا تطروني
كما أطرت
النصارى عيسى بن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله
ورسوله"
“Janganlah kalian
berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani
berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka
katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)” (HR. Bukhori
dan Muslim).
Dan Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم
الغلو"
“Jauhilah oleh kalian sikap
berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah
membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah
dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu).
Dan dalam shoheh Muslim, Ibnu
Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"هلك المتنطعون " قالها
ثلاثا.
“Binasalah orang-orang yang
bersikap berlebih-lebihan” (diulanginya ucapan itu tiga kali).
Kandungan dalam bab ini
:
-
Orang yang memahami bab ini dan kedua bab setelahnya, akan jelas baginya keterasingan Islam, dan ia akan melihat betapa kuasanya Allah itu untuk merubah hati manusia.
-
Mengetahui bahwa awal munculnya kemusyrikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh.
-
Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat oleh orang-orang sehingga ajaran para Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya ?, padahal mereka mengetahui bahwa para Nabi itu adalah utusan Allah.
-
Mengetahui sebab-sebab diterimanya bid’ah, padahal syari’ah dan fitrah manusia menolaknya.
-
Faktor yang menyebabkan terjadinya hal diatas adalah tercampur aduknya kebenaran dengan kebatilan ;
Adapun yang pertama ialah
: rasa cinta kepada orang-orang sholeh.
Sedang yang kedua ialah :
tindakan yang dilakukan oleh orang orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama,
dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka
menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.
-
Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Nuh ([2]).
-
Mengetahui watak manusia bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.
-
Bab ini mengandung suatu bukti tentang kebenaran pernyataan ulama salaf bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran.
-
Syetan mengetahui tentang dampak yang diakibatkan oleh bid’ah, walaupun maksud pelakunya baik.
-
Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama itu dilarang, dan mengetahui pula dampak negatifnya.
-
Bahaya dari perbuatan sering mendatangi kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih.
-
Larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya (yaitu : untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan).
-
Besarnya kedudukan kisah kaum Nabi Nuh ini, dan manusia sangat memerlukan akan hal ini, walaupun banyak diantara mereka yang telah melupakannya.
-
Satu hal yang sangat mengherankan, bahwa mereka (para ahli bid’ah) telah membaca dan memahami kisah ini, baik lewat kitab-kitab tafsir maupun hadits, tapi Allah menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh adalah amal ibadah yang paling utama, dan merekapun beranggapan bahwa apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya adalah kekafiran yang menghalalkan darah dan harta.
-
Dinyatakan bahwa mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh itu tiada lain karena mengharapkan syafaat mereka.
-
Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu yang membikin patung itu bermaksud demikian.
-
Pernyataan yang sangat penting yang termuat dalam sabda Nabi : “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam”. Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada beliau yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar benarnya.
-
Ketulusan hati beliau kepada kita dengan memberikan nasehat bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan itu akan binasa.
-
Pernyataan bahwa patung-patung itu tidak disembah kecuali setelah ilmu [agama] dilupakan, dengan demikian dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya jika hilang.
-
Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya para ulama.
Catataan Kaki :
([1]) Abu Abdillah : Muhammad bin
Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d Az Zur’I Ad Dimasqi, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.
Seorang ulama besar dan tokoh gerakan da’wah Islamiyah; murid syekhul Islam Ibnu
Taimiyah. Mempunyai banyak karya ilmiyah. Dilahirkan tahun 691 H (1292 M) dan
meninggal tahun 751 H (1350 M).
([2]) Ayat ini menunjukkan bahwa
sikap yang berlebih-lebihan dan melampaui batas terhadap orang-orang sholeh
adalah yang menyebabkan terjadinya syirik dan tuntunan agama para Nabi
ditinggalkan.



