Tampilkan postingan dengan label Hakekat Tauhid. Tampilkan semua postingan

Syafaat

BAB 17

SYAFA’AT ([1])

            Firman Allah Subhanahu wata’ala :
]وأنذر به الذين يخافون أن يحشروا إلى ربهم ليس لهم من دونه ولي ولا شفيع لعلهم يتقون[
          “Dan berilah peringatan dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka (pada hari kiamat), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Allah, agar mereka bertakwa” (QS. Al An’am, 51).
]قل لله الشفاعة جميعا[
“Katakanlah (hai Muhammad) : hanya milik Allah lah syafaat itu semuanya” (QS. Az zumar, 44).
]من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه[
“Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizinNya” (QS. Al baqarah, 225).
]وكم من ملك في السموات لا تغني شفاعتهم شيئا إلا من بعد أن يأذن الله لمن يشاء ويرضى[
          “Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengiizinkan (untuk diberi syafaat) bagi siapa saja yang dikehendaki dan diridhoiNya” (QS. An Najm, 26).
]قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرة في السموات ولا الأرض  وما لهم فيهما من شرك وما له منهم من ظهير ولا تنفع الشفاعة عنده إلا لمن أذن له[
          “Katakanlah  : “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tak memiliki kekuasaan seberat dzarrah  (biji atum) pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagiNya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah diizinkaNya memperoleh syafaat itu …” (QS. Saba’, 22).
           Abul Abbas ([2]) mengatakan : “Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain diriNya sendiri, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorangpun selainNya yang memiliki kekuasaan, atau bagiannya, atau menjadi pembantu Allah.
           Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan oleh Allah bahwa syafaat ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana firmanNya :
]ولا يشفعون إلا لمن ارتضى[
“Dan mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali kepada orang yang diridhoi Allah” (QS. Al Anbiya’, 28).

 

          Syafa’at yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al qur’an.

          Dan diberitakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “bahwa beliau pada hari kiamat akan bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala pujian kepadaNya, beliau tidak langsung memberi syafaat lebih dahulu, setelah itu baru dikatakan kepada beliau : “Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafa’at niscaya syafa’atmu akan diterima”.) HR. Bukhori dan Muslim)
           Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bertanya kepada beliau : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atmu ?”, Beliau menjawab : “yaitu orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan ikhlas dari dalam hatinya” .) HR. Bukhori dan Ahmad)
           Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafaat untuk Ahlul Ikhlas Wattauhid (orang-orang yang mentauhidkan Allah dengan ikhlas karena Allah semata) dengan seizin Allah, bukan untuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainNya.
          Dan pada hakikatnya, bahwa hanya Allah lah yang melimpahkan karuniaNya kepada orang-orang yang ikhlas tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka, dengan sebab doanya orang yang telah diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang tersebut dan menempatkanya di tempat yang terpuji.
          Jadi syafa’at yang ditiadakan oleh Al qur’an adalah yang didalamnya terdapat kemusyrikan. Untuk itu Al Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayatnya bahwa syafaat itu hanya ada dengan izin Allah. Dan Nabi pun sudah menjelaskan bahwa syafa'at itu hanya diperuntukan untuk orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Allah semata”.
  
   Kandungan bab ini :
  1. Penjelasan tentang ayat-ayat diatas ([3]).
  2. Syafa’at yang dinafikan adalah syafa’at yang didalamnya terdapat unsur-unsur kemusyrikan.
  3. Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at untuk orang-orang yang bertauhid dengan ikhlas, dan dengan izin Allah.
  4. Penjelasan tentang adanya syafa’at kubro, yaitu  : Al Maqom Al Mahmud (kedudukan yang terpuji).
  5. Cara yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hendak mendapatkan syafa'at, beliau tidak langsung memberi syafa'at lebih dahulu, tapi dengan bersujud kepada Allah, menghaturkan segala pujian kepadaNya, kemudian setelah diizinkan oleh Allah barulah beliau memberi syafa'at.
  6. Adanya pertanyaan : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’at beliau ?”
  7. Syafa’at itu tidak diberikan kepada orang yang mensekutukan Allah.
  8. Penjelasan tentang hakikat syafa’at yang sebenarnya.
 Catatan Kaki : 


([1])  Syafaat telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka : “Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan syafa'at kepada kami di sisiNya”, maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafa'at yang mereka harapkan itu adalah percuma, bahkan syirik, dan syafa'at hanyalah hak Allah semata, tiada yang dapat memberi syafa'at kecuali dengan seizinNya bagi siapa yang mendapat ridhaNya.
([2])  Taqiyuddin Abul Abbas ibnu Taimiyah : Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah An Numairi Al Harrani Ad Dimasqi. Syaikhul Islam, dan tokoh yang gigih sekali dalam gerakan dakwah Islamiyah. Dilahirkan di Harran, tahun 661 H (1263 M) dan meninggal di Damaskus tahun 728 H (1328).
([3])  Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafa'at seluruhnya adalah hak khusus bagi Allah.
       Ayat ketiga menunjukkan bahwa syafa'at itu tidak diberikan kepada seseorang, tanpa adanya izin ddari Allah.
       Ayat keempat menunjukkan bahwa syafa'at itu diberikan oleh orang yang diridhoi Allah dengan izin dariNya. Dengan demikian syafa'at itu adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dariNya, dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, nabi atau orang-orang sholeh, untuk meminta syafaat mereka.
        Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudhorat, dan menunjukkan bahwa syafa'at tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang mengamalkan tauhid, dan itupun dengan izin Allah.

Mukadimah


الحمد لله الذي جعل التوحيد قاعدة الإسلام وأصله ورأسه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وصلى الله وسلم عليه وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه. أما بعد :
 Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.
 Allah Ta’ala berfirman :
]مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون[ (النحل:97)

          “Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl, 97 )
Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim mempelajarinya.Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan SifatNya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaan dan kemahakuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan SifatNya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. ( Lihat Al Qur’an 38 : 82, 31 : 25, 23 : 84-89 ). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah Ta'ala.
Dari sini timbullah pertanyaan : “Apakah hakekat tauhid itu ?”
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu : menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW. ( Lihat Al Qur’an 16 : 36, 21 : 25, 7 : 59, 65,73,85, dan lain-lain )
Maka buku dihadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakekat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai pegangan hidup.
Buku ini ditulis oleh seorang ulama yang giat dan tekun dalam kegiatan da’wah Islamiyah. Beliau adalah syekh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi, yang dilahirkan di Uyainah, tahun 1115 H (1703 M), dan meninggal di Dir’iyyah  (Saudi Arabia) tahun 1206 H (1792 M).
Keadaan umat Islam, dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan pada masa hidupnya, yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong syekh Muhammad bersama para muridnya untuk melancarkan da’wah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni.
         Maka, untuk tujuan da’wahnya beliau menulis sejumlah kitab dan risalah, yang diantaranya :
1.  Kasyf Asy Syubuhat
2.  Tafsir Al Fatihah
3.  Tafsir Syahadah “La Ilaha Illah”
4.  Kitab Al Kabair
5.  Ushul Al Iman
6.  Ushul Al Islam
7.  Al Masa’il Al lati kholafa fiha Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ahlal Jahiliyah
8.  Aadab Al Masy-yi Ilash Sholah (Ala madzhabil Imam Ahmad bin Hambal)
9.  Al Amru bil makruf wan Nahyu ‘anil Munkar
10. Mukhtashor Siraturrasul
11. Kitab tauhid alladzi huwa Haqqullah ‘alal ‘ibad

Buku terakhir inilah yang terjemahannya ada di tangan pembaca. Dan melalui buku ini, beliau berusaha untuk menjelaskan hakekat tauhid, dan penerapannya dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam bab I, penulis menjelaskan hakekat tauhid dan kedudukannya ; dalam bab 2 & 3 menerangkan tentang keistimewaan tauhid dan pahala yang diperoleh darinya ; dalam bab 4 mengingatkan agar takut terhadap perbuatan yang bertentangan dengan tauhid, serta membatalkannya, yaitu syirik akhbar, atau perbuatan yang mengurangi kesempurnaan tauhid, yaitu syirik ashghor ; dalam bab 5 menjelaskan tentang kewajiban berda’wah kepada tauhid ; dan dalam bab 6 menjelaskan tentang makna tauhid dan syahadat “la Ilaha Illallah”.
Upaya pemurnian tauhid tidak akan tuntas hanya dengan menjelaskan makna tauhid, akan tetapi harus dibarengi dengan penjelasan tentang hal hal yang dapat merusak dan menodai tauhid. Untuk itu, pada bab-bab berikutnya, penulis berusaha menjelaskan berbagai macam bentuk tindakan dan perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi kesempurnaan tauhid, dan menodai kemurniannya, yaitu apa yang disebut dengan syirik, baik syirik akhbar maupun syirik ashghor, dan hal hal yang tidak termasuk syirik tetapi dilarang oleh Islam, karena menjurus kepada kemusyrikan, disertai pula dengan keterangan tentang latar belakang historis timbulnya syirik.
Terakhir, penulis menyebutkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, yang menerangkan  tentang keagungan dan kekuasaan Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang paling berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, dan Dialah Tuhan yang memiliki segala sifat kemuliaan dan kesempurnaan.
Satu hal yang unik dalam metode pembahasan buku ini, bahwa penulis tidak menerangkan atau membahas tauhid dengan cara yang lazim kita kenal dalam buku-buku masa kini. Pada setiap bab, penulis hanya menyebutkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits serta pendapat-pendapat ulama salaf, kemudian beliau menjabarkan bab-bab itu dengan menyebutkan permasalahan-permasalahan penting yang terkandung dan tersirat dari dalil-dalil tersebut.
Akan tetapi, justru dengan demikian itulah, buku ini menjadi lebih penting, sebab pembahasannya mengacu kepada kitab dan sunnah yang menjadi sumber hukum bagi umat Islam.
Mengingat amat ringkasnya beberapa permasalahan yang dijabarkan oleh penulis, maka dengan memohon taufiq Allah, penerjemah memberikan sedikit keterangan dan penjelasan dengan diapit oleh tanda dua kurung siku “[ … ]” atau melalui catatan kaki.
Apa yang diharapkan oleh penulis bukanlah sekedar mengerti dan memahami, tapi lebih dari itu, yaitu : sikap dan pandangan hidup tauhidi yang tercermin dalam keyakinan, tutur kata dan amalan.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita dalam usaha mewujudkan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan semurni-murninya. Hanya kepada Allah kita menghambakan diri, dan hanya kepadaNya kita memohon pertolongan. Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.


Senin, 03 Agustus 2015

Popular Post

Blogger templates

- Copyright © Kitab Tauhid - Syaikh Muhammad Abdul Wahab At-Tamimi -Metrominimalist- Powered by Blogger - By Posting Maktabah Al-Calunzy -